RAHASIA SUKSES PENGEMBANGAN KARIR

RAHASIA SUKSES PENGEMBANGAN KARIR

Dalam blog ini saya ingin berbagi rahasia sukses pengembangan karir. Sebagai orang yang menggeluti profesi sebagai konsultan SDM, banyak sekali teman yang secara pribadi bertanya bagaimana mereka atau bahkan anak mereka —  bisa mengembangkan karir secara cemerlang. Banyak juga yang bertanya bagaimana jika putra-putri mereka mencari kerja atau lebih tepatnya menghadapi proses rekrutmen. Seringnya mendapat pertanyaan-pertanyaan pribadi seperti itulah yang membuat saya kemudian berpikir, pastilah banyak orang lain yang juga mempunyai pertanyaan sama dan membutuhkan teman diskusi.

Berawal dari hal di atas, kemudian saya ingin bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman saya secara lebih luas dengan mengasuh rubrik Konsultasi Karir di sebuah media selama beberapa tahun. Atas dorongan beberapa teman, saya kemudian menerbitkan dalam bentuk buku. Total ada 5 buku yang sudah terbit di tahun 2005.

Namun tetap saja banyak pertanyaan yang sering terlontar tentang hal yang kurang lebih sama pada saya seputar bagaimana mengembangkan karir. Itulah yang kemudian membuat saya berpikir untuk membuat blog khusus yang membahas Pengembangan Karir.

Karena kesibukan aktifitas, saya tentu tidak mungkin tiap saat “menjaga” blog ini atau tepatnya merespon pendapat atau pertanyaan teman-teman . Meski begitu, saya usahakan tiap hari masih punya waktu untuk menengok blog ini. Bagi teman-teman yang ingin memberi pendapat atau bahkan bertanya silakan mengirimkannya melalui email : blogpengembangankarir@gmail.com.

Buat teman-teman yang terlalu banyak pertanyaan dan ingin segera tahu jawabannya bisa juga memborong 5 (lima) buku saya: Strategi Cerdas Menata Karir, Mengelola Problem di Tempat Kerja, Optimalkan Potensi Anda, Mengantisipasi Interupsi Karir dan Menghindari Jebakan Karir, Nah, ini yang nggak mudah .. karena diterbitkan di tahun 2005, tentu saja sudah tidak ada lagi di toko-toko buku. Setahu saya masih ada stock meski tidak banyak. Pilihannya satu, silahkan emailkan dan nanti barang akan dikirimkan ke alamat pembaca.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukan. Saya berharap ada sharing pengalaman dari kejadian serupa yang pernah dialami sehingga bisa menjadi referensi bagi yang lainnya.

Salam sukess,
I Novianingtyastuti

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , | Comments Off on RAHASIA SUKSES PENGEMBANGAN KARIR

Pengembangan Karir – Cemburu Pada Karyawan Baru

Pengembangan Karir – Cemburu Pada Karyawan Baru

pengembangan karir cemburu pada karyawan baru

Pengasuh yang terhormat. Saya bekerja sebagai staf Marketing di sebuah perusahaan jasa. Selama ini hasil kerja saya selalu diakui dan dipuji memuaskan oleh Manager saya. Tugas-tugas menemui klien penting atau proyek-proyek baru dan follow up order baru banyak dipercayakan kepada saya.  Kondisi ini berubah setelah  masuk  staf marketing baru yang kemudian (menurut saya, bu) lebih diperhatikan dan mendapat tugas-tugas khusus dari bos. Dia mendapat fasilitas lebih cepat dari yang seharusnya diterima dan lebih sering diajak menemui tamu. Saya merasa ini persaingan tidak sehat, jangan-jangan dia menggunakan kecantikannya untuk mengambil simpati dari atasan. Apa yang harus saya lakukan, Bu? Yuli, Surabaya

Jawaban:

Yuli yang sedang cemburu berat (he..he. jangan ditanggapi terlalu serius ya..). Jika selama ini hasil kerja Anda dianggap memuaskan, berarti karena berhasil menunjukkan yang disebut indicator keberhasilan pelaksanaan tugas, seperti untuk Staf Penjualan adalah kelancaran pelaksanaan tugas, tidak ada komplain, klien memberikan order ulang dan deadline penyelesaian proyek tepat jadwal. Berarti memang Anda kompeten untuk tugas tersebut. Jika sekarang Anda “merasa” ada perbedaan perlakuan, maka ada beberapa kemungkinan penyebabnya:

Alternatif pertama, adanya karyawan baru dalam bagian Anda harus dipandang sebagai kesempatan untuk memperkuat team kerja. Banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk melatih orang baru agar dapat beradaptasi dengan tuntutan tugas antara lain dengan praktek langsung di lapangan, seperti yang terjadi dengan orang baru tersebut. Jadi wajar-wajar saja jika saat sekarang atasan lebih berfokus ke orang baru tersebut karena ia diharapkan segera dapat siap terjun membantu tugas-tugas Anda.

Kedua, sedang diciptakan kondisi kompetitif yang bertujuan untuk memotivasi Anda untuk lebih baik dari yang sekarang. Coba evaluasi apa yang menjadi kekuatan Anda selama ini dan juga apa kekuatan “rival” Anda. Jika ia punya kelebihan yang tidak Anda punya, jangan takut, cobalah Anda gali dan tunjukkan hal lain yang bisa memperkuat posisi Anda dengan cara positif. Ada banyak contoh dengan diciptakan kondisi demikian, seseorang jadi lebih perform dari sebelumnya. Jadi jangan Anda anggap sebagai ancaman, lihatlah sebagai peluang untuk berkembang.

Ketiga, bisa jadi perusahaan punya planning bisnis yang belum dilaunching dan orang baru tersebut dikader untuk memenuhi tujuan tersebut. Cari informasi tentang hal ini dan siapkan jurus untuk menunjukkan bahwa Anda punya kompetensi yang dibutuhkan untuk rencana tersebut. Penguasaan bisnis yang Anda miliki karena lebih lama bekerja di perusahaan tersebut dapat dijadikan sebagai modal untuk menangkap peluang tersebut. Bersaing di tempat kerja sah-sah saja kok, asal Yuli menggunakan cara yang sehat dan etis.(*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Cemburu Pada Karyawan Baru

Pengembangan Karir – Dijauhi Teman Kerja

Pengembangan Karir – Dijauhi Teman Kerja

pengembangan karir dijauhi teman

Bu, saya seorang karyawan, orangnya pendiam dan kurang pintar bergaul.  Mungkin sedikit “kuper”. Maklum saya datang dari daerah, meskipun selama kuliah juga tinggal di Surabaya. Selama kuliah saya juga tidak banyak kumpul-kumpul dengan teman lain seyogyanya anak-anak muda kuliahan. Lha wong uang yang dipakai untuk itu tidak ada. Untuk biaya kuliah dan hidup saja sudah pas-pasan. Selain kuliah saya juga nyambi-nyambi bekerja sebagai penjaga wartel dan pernah juga jadi staf Administrasi sebuah Apotik.

Setelah lulus kuliah dengan IPK yang lumayan (di atas 3), saya diterima bekerja di perusahaan yang sekarang ini sebagai Staf Akuntansi. Setelah kurang lebih berjalan 6 ini, saya mendengar beberapa teman ngrasani saya, bahwa saya ini aneh. Saya mengakui saya pendiam, tapi bukan berarti saya tidak mau bergaul dan mungkin mau berniat jahat dengan orang lain. Saya memang beberapa kali menolak ajakan mereka untuk jalan-jalan dan di tempat kerja saya terkenal tidak banyak bicara> Saya memang tidak suka jalan-jalan sejak dulu. Saya merasa lebih baik menabung gaji yang saya dapat, daripada dihabiskan untuk foya=foya, Selain itu saya juga berpikiran kalau tidak ada yang penting untuk dibicarakan, lebih baik diam. Buktinya urusan pekerjaan juga beres.

Menurut Ibu, apakah benar saya ini aneh? Bagaimana agar saya bisa diterima mereka tanpa merubah diri saya apa adanya. Terima kasih banyak Bu.                     Wien, Surabaya

Jawaban:

Sdr. Wien, mungkin Anda sering mendengar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dimana seseorang berada, tidak akan mungkin bisa dilepaskan dari orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Demikian halnya di tempat kerja, fakta telah menunjukkan bahwa dapat tidaknya seseorang diterima oleh lingkungan kerja bukan semata-mata dari hasil pekerjaannya, tetapi juga dibutuhkan satu interaksi dengan rekan kerja, atasan maupun bawahan.

Saya tidak menyalahkan pilihan sikap Anda. Situasi kelihatan jadi sedikit tidak harmonis karena kebetulan teman-teman Anda punya kebiasaan yang berlawanan dengan Anda. Sehingga nampak seperti kutub utara dan kutub selatan, minyak dan air. Anda tidak memahami mereka dan sebaliknya mereka tidak bisa memahami Anda. Ini dapat terjadi karena Anda tidak terlalu mengenal mereka dan kebiasaannya. Sebaliknya juga nampaknya mereka kurang mengenal Anda. Saya sependapat bahwa di tempat kerja tidak semua masalah pribadi perlu dibuka. Namun sebenarnya dengan keterbukaan di antara sesama rekan kerja hubungan jadi harmonis meskipun masing-masing mempunyai karakter yang berbeda.

Dengan pendekatan psikologi, ada satu metode yang biasa digunakan untuk evaluasi diri yang dinamakan Jendela Johari.  Biasanya metode ini digunakan untuk mengetahui karakter/sifat seseorang. Jendela Johari terbagi dalam empat bagian, yaitu: Pertama, area terbuka, yaitu bagian dimana seseorang tahu sifat-sifat yang dimiliki, demikian juga orang lain tahu bahwa dia mempunyai karakter tersebut. Bagian kedua, adalah area tersembunyi, yaitu bagian dimana seseorang sendiri tahu bahwa ia mempunyai karakter tersebut, tetapi orang lain tidak melihat bahwa ia mempunyai karakter tersebut. Selanjutnya bagian ketiga adalah area buta, yaitu bagian dimana seseorang tidak tahu / tidak sadar bahwa ia mempunyai karakter / sifat tersebut, tetapi orang lain melihat bahwa ia mempnyai karakter/sifat demikian. Dan terakhir, adalah bagian dimana baik orang lain maupun orang tersebut tidak tahu bahwa sifat tersebut dimiliki.

Konflik biasanya sering timbul dalam area kedua dan ketiga. Karena ada sifat-sifat yang tidak diketahui oleh orang lain, sehingga menimbulkan salah persepsi bagi yang lainnya. Terutama di area ketiga, dimana seseorang tidak merasa bahwa ia sombong dan menjauhkan diri. Tetapi setelah ditanyakan kepada yang lainnya, kebanyakan orang berpendapat bahwa ia sombong, pilih-pilih teman, dan tidak peduli orang lain. Jika kondisi ini berlangsung terus, bisa dibayangkan orang tersebut akan dijauhi orang lain. Kondisi akan makin sulit jika orang tersebut tidak mencoba menggali dari orang lain apa yang mereka ketahui tentang dirinya.

Sementara dalam area terbuka, karena masing-masing pihak mengetahui karakter orang yang lain, sehingga proses interaksi lebih mudah dan dapat diterima pihak yang lain. Seperti yang Anda alami, teman-teman Anda nampaknya tidak paham mengapa Anda tidak suka kumpul-kumpul. Mereka menganggap Anda memisahkan diri dan sok eksklusif. Sementara Anda merasa dari sononya tidak suka kumpul-kumpul.

Saran saya, tidak ada salahnya Anda menyampaikan hal ini kepada teman yang lain. Mungkin bisa dimulai dengan teman yang paling bisa Anda percaya atau teman dimana Anda merasa dekat dan nyaman bicara dari hati ke luar kota hati. Demikian juga latar belakangnya, sehingga membuat Anda biasa berhemat. Dengan adanya keterbukaan ini saya yakin bahwa teman lain akan memahami dan memaklumi kenapa Anda selama ini nampaknya tidak bisa menyatu dengan mereka. Secara perlahan cobalah untuk menyempitkan area kedua dan ketiga. Jika hal ini makin sering dilakukan, maka secara tidak langsung area pertama akan makin melebar. Komunikasi dan interakasi paling harmonis biasanya akan terjadi jika area pertama/ terbuka makin lebar.

OK, singkatnya, cobalah makin membuka diri dengan teman-teman yang lain. Selain itu juga cobalah mendekati mereka, dari situ mungkin Anda akan mendapatkan persepsi atau pemahaman yang baru tentang kebiasaan teman-teman Anda. Sedikit usaha jika membuahkan hasil yang banyak menguntungkan buat Anda, tidak ada salahnya bukan dilakukan? Salam, dan semoga sukses selalu. (*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Dijauhi Teman Kerja

Pengembangan Karir – Menghadapi Si ’Workalkoholic’

Pengembangan Karir – Menghadapi  Si ’Workalkoholic’

pengembangan karir menghadapi si WORKAHOLIC

Saya punya teman dekat. Menurut penilaian saya, ia workaholic. Semua energi dan pikirannya tercurah ke pekerjaannya. Mungkin juga saya jealous, karena hari libur yang mestinya dia gunakan untuk saya pun sering dilewatkan dengan pembicaraan seputar pekerjannya. Sudah saya ungkapkan keberatan saya ini kepadanya, tapi jawabannya selalu untuk masa depan. Padahal saya tidak menuntut lebih dan menurut saya posisinya dalam perusahaan saat ini sudah cukup mapan. Apakah dampak positif dan negatif workaholic? Bagaimana menghentikannya? Nana, Sidoarjo

Jawaban:

Sdr. Nana, orang awam sering sulit mengetahui seorang pekerja keras, apakah workaholic atau bukan. Untuk membedakannya, diperlukan pengamatan dan observasi mendalam. Saya sendiri tidak bisa menyimpulkan apakah teman dekat Anda workaholic atau tidak. Saya berharap tidak demikian.

“The workplace does not create workaholism, the same way a bar does not create alcoholism, but it does enable it”, kata seorang ahli. Jadi sebenarnya bekerja keras sah-sah saja hukumnya.

Seseorang dikatakan workaholic adalah jika orientasi aktivitas sehari-hari sebagian besar diarahkan pada pekerjaan. Orang tersebut merasa mempunyai keharusan untuk tetap sibuk dan mengubur diri dalam tumpukan kertas-kertas/pekerjaannya. Orang tersebut kecanduan kerja dan yang dilakukannya merupakan dorongan yang sulit dikendalikan. Karena itu yang dilakukan biasanya adalah pekerjaan rutin atau yang memakan waktu.

Dalam bekerja, mereka biasanya menurutkan kata hati dan melakukan pembatasan terhadap aktivitas lain selain kerja. Dan dengan berperilaku demikian jangan berasumsi itu akan selalu berdampak positif pada pekerjaan. Perasaan puas memang mungkin, karena mereka berusaha mengendalikan semua proses. Namun yang sebaliknya, aktivitas yang dilakukan bukanlah suatu kegiatan produktif yang direncanakan secara sistematis, karena itu dia akan sulit melakukan inovasi atau lompatan ke depan.

Mereka seringkali sulit mendelegasikan, sehingga dampaknya adalah waktu kerja jadi panjang, selalu membawa pekerjaan kemana pun pergi (meski dalam situasi yang memungkinkan bersantai). Akibat selanjutnya stres yang tinggi bagi orang-orang di sekitar mereka dan kesehatan mental bagi pelakunya.

Coba perhatikan beberapa hal di bawah ini. Jika teman Anda mengalami lebih dari lima point berikut, ada kemungkinan ia seorang workaholic. 1. Jika bangun pagi-pagi, ia tak menghiraukan apakah terlambat tidur. 2. Jika makan siang sendiri, sambil membaca atau bekerja sambil makan. 3. Ia menemui kesulitan jika tidak mengerjakan apa-apa. 4. Ia tetap bekerja pada akhir minggu dan hari libur. 5. Ia justru menemui kesulitan ketika akan ambil cuti. 6. Takut kehilangan pekerjaan jika tidak kerja keras 7. Dapat bekerja di mana dan kapan saja. 8. Biasanya penuh semangat dan daya saing.

Workaholic berbeda dengan hard worker. Hard worker biasanya menyukai apa yang dikerjakan dan memperoleh kepuasan sebagai hasilnya. Mereka mempunyai energi dan semangat yang tinggi untuk hidup. Selain itu, mereka mengumpulkan prestasi yang banyak dengan berbagai aktivitas professional dan pribadi. Sehingga dapat dikatakan workaholic yang sehat (healthy workaholic).

Dampak negatif bagi seorang workaholic, seringkali dirasakan oleh orang-orang dalam tim kerjanya. Mereka seringkali mengambil tanggungjawab pekerjaan secara penuh dan bersedia bekerja ekstra karena menganggap orang lain tidak mampu melakukannya. Mereka menuntut orang lain bisa perfect dan bekerja keras seperti yang mereka lakukan. Karenanya cenderung menjadi one man show dan tidak toleran. Buat mereka pekerjaan adalah prioritas utama!

Dampak selanjutnya adalah terhadap keluarga, teman, dan lingkungan sosial di luar tempat kerja. Mereka seolah-olah tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi. Mereka tidak menyadari jika perilaku yang dilakukan tidak sehat karena membuat kehidupan tidak seimbang. Anak-anak dan pasangan hidup dapat menjadi korban. Bahkan tingkat perceraian lebih tinggi ditemui pada pasangan workaholic.

Jika hal ini dilakukan dalam jangka panjang, dampak selanjutnya adalah terhadap kesehatannya. Sebagai dampak dari stres kerja yang tinggi, maka gangguan yang potensial muncul adalah kecemasan, depresi, kelelahan mental, tekanan darah tinggi, dan lemahnya sistem kekebalan tubuh.

Jika ternyata kecenderungan teman dekat Anda mengarah ke sana, untuk mengembalikan ke dalam aktivitas sehat, kuncinya adalah mencari sumber masalah mengapa ia bertindak demikian. Cari tahu kemungkinan ia mendapat “ancaman” psikologis terhadap pekerjaan atau harga dirinya sehingga ia kemudian terdorong untuk menunjukkan diri dan kemampuan dengan bekerja keras.

Seorang yang perfect sering bisa juga menjadi workaholic karena menginginkan hasil yang prima. Seorang yang terbiasa bekerja dalam proyek dan target waktu, kecenderungannya akan selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. Trauma kegagalan finansial di masa lalu bisa juga jadi penyebab, sehingga terobsesi untuk bekerja keras memenuhi keamanan finansial. Mintalah bantuan dari ahlinya jika Anda menemui kesulitan.

Peran Anda selanjutnya adalah menyadarkan perlunya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan professional. Kebahagiaan dan kepuasan batin adalah hal yang tidak dapat dibeli dengan uang banyak sekalipun. Alangkah nikmatnya jika di sela-sela kesibukan kerja, kita masih punya waktu untuk menyenangkan diri dan punya kebersamaan dengan orang-orang dekat. Saya yakin dukungan dan kepercayaan Anda akan banyak membantu.(*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Menghadapi Si ’Workalkoholic’

Pengembangan Karir – Atasan Tidak Favorit

Pengembangan Karir – Atasan Tidak Favorit

pengembangan karir atasan tidak favorit

Ibu Novi, sebelumnya saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Saat sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan jasa. Saya punya atasan dimana orangnya kurang familiar dengan bawahan yang lain. Jika saya perhatikan, dibandingkan dengan manajer yang lain, orangnya memang lebih serius dan tidak banyak bicara. Dia memang sangat pandai dalam urusan teknis kerja, intinya sangat menguasai A-Z urusan kerja. Tetapi masalah hubungan dengan orang, nampaknya ia sangat membatasi apalagi hubungan / interaksi dengan bawahannya. Ini juga dirasakan oleh teman-teman yang lain dalam satu bagian. Mungkin ia jaga jarak agar nampak tetap dihormati oleh bawahannya.

Tetapi yang saya amati, justru karena dia menjaga jarak sedemikian rupa sehingga teman-teman justru tidak mau terbuka dengan dia. Pernah satu teman mengundurkan diri, eh dia cuma bilang “ Ya sudah, selesaikan tugas dari saya… lalu segera buat serah terima…” Langsung saja teman tersebut kaget dan merasa sangat tidak dibutuhkan. Ia heran mengapa tidak dicoba digali alasan mau keluar, justru seakan kehadirannya tidak diharapkan lagi.

Padahal manajer divisi lain tidak membatasi hubungan dengan bawahannya. Tanpa menjaga jarak pun bawahannya juga tidak ada yang kurang ajar. Mereka justru akrab satu dengan yang lainnya, suasana lebih riang, tidak serius dan terasa banget kebersamaannya. Dalam pengamatan saya, ia sebenarnya juga bukan orang yang kejam dan jahat. Tetapi melihat kelugasan dan kekakuan caranya, situasi kerja jadi terasa kurang harmonis dan seakan ada gap. Teman-teman serius ketika dia ada, tapi di balik itu mereka membicarakannya. Seringkali ketika makan siang di ruang makan, teman-teman bergerombol satu meja, sementara ia dibiarkan duduk sendirian…

Saya dan teman-teman terus terang menginginkan suasana kerja jadi menyenangkan dan sersan (serius tapi santai). Sehingga kerja jadi bergairah, tidak tegang seperti sekarang. Tapi apa yang harus saya lakukan? Rasanya juga tidak mungkin meminta atasan untuk berubah. Bisa-bisa malah saya yang diperingatkan dia. Karena itu, mohon  masukan terbaiknya, Bu.                                                                                      .              Ifa. Surabaya

Jawaban:

Selamat berpuasa juga, semoga kita semua diberi kekuatan agar dapat menjalankan ibadah ini dengan sempurna. Ifa, saya bisa membayangkan jika Anda bekerja di perusahan  bergerak bidang jasa, maka kebanyakan karyawannya adalah seorang yang people oriented. Karena itu juga Anda membandingkan  atasan Anda dengan manajer dari divisi lain, yang menurut Anda lebih popular.  Tapi jangan lupa bahwa karakter manusia sangat beragam. Masa kecil dan pengalaman yang mereka terima sepanjang hidup membentuk sifat dan karakter mereka menjadi seperti yang Anda lihat sekarang.

Bekerja dengan rekan kerja yang kompak dan atasan yang dapat menyelami kebutuhan bawahan adalah harapan ideal semua orang. Seperti juga harapan atasan, mempunyai anggota tim kerja yang penuh inisiatif dan tanggap serta dapat diandalkan. Tapi nampaknya tidak seorang pun bisa beruntung berada dalam kondisi ideal seperti ini.   Selalu ada saja kondisi yang tidak sesuai dan terkadang menghambat terpenuhinya situasi tersebut.

Anda masih beruntung karena atasan Anda bukanlah seorang yang mempunyai karakter sulit. Saya hanya melihat bahwa ia memang mempunyai karakter dimana orientasi hubungan pada orang lain bukanlah fokus utama dirinya. Ia mendapatkan energi justru dari ketenangan dan keseriusannya dalam melakukan sesuatu. Baginya keberhasilan adalah jika suatu pekerjaan berhasil dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan prosedur.  Seorang yang demikian biasanya lebih berfokus pada hasil.

Karena orientasi yang demikian,  maka urusan harus beramah-ramah dan memahami orang lain serta memperhatikan mereka menjadi prioritas berikutnya. Ini yang Anda tafsirkan dengan kurang bisa bersosialisasi, padahal sebabnya hanya beda orientasi. Seiring dengan perkembangan kematangan pribadi dan karir seseorang, untuk memenuhi tuntutan pekerjaan sebagai manajer, ada orang yang dapat memahami kebutuhan peran tersebut dan kemudian menyesuaikan diri  sehingga mereka tidak hanya berorientasi pada urusan teknis kerja. Orientasi jadi bergeser pada bagaimana agar mereka bisa mengelola tim kerja jadi lebih “hidup” dan efektif. Ada juga seorang yang karena kebiasaan, mereka tetap menggunakan gaya kerja yang selama ini digunakan. Nampaknya yang demikian ini yang terjadi pada atasan Anda.

Anda harus bisa melihat sisi positif dan negatif dari sifat atasan Anda tersebut, sehingga tidak merasa terbebani dengan kondisi yang ada sekarang. Orang dengan karakter yang berorientasi pada hasil biasanya akan berusaha menuntut dirinya sendiri dan orang lain berusaha keras untuk mencapai hasil yang optimal. Dia akan bersikap serius pada saat hasil yang diharapkan masih jauh untuk diwujudkan. Sebaliknya juga menuntut orang lain bersikap serius. Namun demikian seperti yang Anda katakan bahwa atasan tidak terlalu hangat terhadap orang lain, namun bukan anti social. Sehingga masih dimungkinkan Anda dapat membina hubungan yang lebih dekat dengan atasan. Caranya antara lain dengan bersikap proaktif untuk melakukan pendekatan pada saat-saat proyek / tugas yang ditangani atasan Anda tidak terlalu padat. Karena pada saat demikian ia bisa merasa santai dan tidak keberatan menerima pendekatan orang lain.

 Agar Anda tidak merasa bekerja sendiri untuk melakukan pendekatan terhadap atasan, maka pelopori untuk melakukan pendekatan dengan cara membuat acara kebersamaan. Seperti bulan puasa ini Anda bisa berinisiatif untuk menyelenggarakan buka puasa bersama dengan mengatur tempat duduk sedemikian rupa yang bisa menghilangkan batasan atasan bawahan. Disaat lain Anda juga bisa melakukan kedekatan dengan mengajak atasan Anda menghadiri acara ulang tahun rekan-rekan sekantor. Dengan seringnya Anda dan teman-teman mengajak atasan bersama-sama, maka ia lebih merasa dekat dengan bawahannya, sehingga akan lebih memperhatikan  lingkungan daripada sebelumnya. Namun perlu diingat, Anda jangan mengharapkan kedekatan yang terlalu hangat. Seorang dengan tipe seperti itu tetap bisa akrab dengan orang tertentu, biasanya dengan orang-orang yang bisa bersikap wajar kepadanya dan tanpa canggung mengadakan pendekatan kepadanya. Semoga saran di atas cukup membantu. Good luck, Ifa.(*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Atasan Tidak Favorit

Pengembangan Karir – Menghadapi “Bigos” di Kantor

Pengembangan Karir – Menghadapi “Bigos” di Kantor

pengembangan karir Menghadapi gosip di Kantor

Saya baru dirotasi oleh perusahaan dan ditugaskan di kota lain. Yang sangat mengganggu saya, teman–teman saya di sini suka menggosip. Saya sendiri wanita dan seperti nature-nya wanita — suka bergosip. Tapi yang sekarang ini benar-benar keterlaluan, ada satu bigos (biang gosip) yang sangat keterlaluan dan bahkan yang terakhir ini sampai mengganggu keharmonisan rumah tangga seorang teman. Saya merasa terpanggil supaya kejadian serupa tidak terulang lagi. Saran Ibu, apa yang harus saya lakukan? Rara Madiun

Jawaban:

Syukurlah Anda sangat menyadari dampak negatif dari sebuah gosip. Karena tidak semua orang bisa mempunyai pendirian yang demikian. Gosip sendiri beredar dari suatu informasi yang tidak jelas yang kemudian seringkali berkembang dari mulut ke mulut. Wanita sering dituding jadi biang gosip, karena wanita seringkali membutuhkan dukungan perasaan, senang membincangkan detil masalah, dan perasaan untuk mendapatkan peneguhan dari lingkungannya.

Seperti yang Anda alami, gosip sendiri lebih banyak berdampak negatif daripada positif. Kemampuan seseorang dalam menanggapi informasi mempengaruhi persepsi terhadap informasi tersebut meskipun terhadap informasi yang sama. Akibatnya, ketika disampaikan kepada pihak lain, isi dan makna bisa berubah. Buntut-buntutnya informasi makin berkembang jauh dari informasi awal / asli.

Sifat dasar manusia untuk menjadi pusat perhatian adalah penyebab utama seseorang menjadi bigos. Coba amati teman Anda si bigos, bisa jadi ia berbuat demikian karena  butuh aktualisasi diri. Dan biasanya karena ia tidak benar-benar unggul dalam pekerjaan atau kualitas pribadi yang lain. Akhirnya cara menarik perhatian yang mungkin dilakukannya dengan cara murahan, seperti “menjual” gosip. Mestinya menghadapi orang yang demikian kita harus kasihan, karena secara tidak sadar ia mengobral citra dirinya dengan melakukan sesuatu yang negatif.

Selain itu, manusia cenderung mudah melihat kesalahan dan senang menertawakan penderitaan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Gosip hampir selalu berisi informasi “miring” yang dibumbui secara overdosis. Jangan heran jika dampaknya sampai merusak keharmonisan hubungan. Sayangnya tidak banyak orang yang menyadari betapa berbahayanya racun gosip itu.

Hal lain yang memicu gosip adalah kecenderungan orang untuk mencari hiburan di luar rutinitas formal. Tersedianya waktu luang atau tiadanya aktivitas, membuat informasi yang dianggap hiburan ini menjadi aktivitas yang menarik dan tanpa disadari menjadi lingkaran gosip.

Yang bisa Anda lakukan jika teman Anda mulai berceloteh adalah jangan menambahkan informasi yang disampaikan. Dengan demikian, informasi itu akan berhenti sampai di situ. Jangan tergoda untuk menanggapi obrolannya. Bertindaklah hanya sebagai pendengar. Orang yang cari perhatian, jika diperlakukan demikian biasanya akan berhenti bicara dan mencari korban/sasaran lain. Menyibukkan diri dalam pekerjaan atau meninggalkannya adalah cara menolak dan menghindari sumber gosip. Jika ia tidak tahu diri, katakan Anda sedang sibuk dan mengejar deadline.

Selanjutnya semua informasi yang dibicarakan si bigos, selalu cek dari sumber pertama. Sehingga saat gosip itu beredar lagi, Anda bisa membantu meluruskan. Dengan demikian secara tidak langsung Anda berusaha menunjukkan kepada orang lain bahwa informasi yang disampaikan tidak benar.

Sejalan dengan waktu, jika kejadian demikian sering berulang, percayalah teman-teman Anda pasti akan bisa menilai informasi “sampah” yang disampaikan dan akan pelan-pelan meninggalkannya. Salam.(*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Menghadapi “Bigos” di Kantor