Pengembangan Karir – Sikap Negatif Atasan Baru

Pengembangan Karir – Sikap Negatif Atasan Baru

pengembangan karir Sikap Negatif Atasan Baru

Bu, saya karyawan baru sebagai Staf Akuntansi sebuah perusahaan industri di Jombang. Saya punya atasan, Manager Akuntansi & Keuangan,  yang bertugas membantu saya mengenalkan tugas-tugas baru. Pada waktu sebulan pertama sebagai karyawan baru, dia mengajarkan saya tentang banyak hal antara lain hal-hal teknis pekerjaan. Selain itu juga mengenalkan perusahaan, seperti aktifitas bisnis perusahaan dan beberapa hal tentang visi-misi perusahaan.

Tapi ada yang mengganjal perasaan saya, dalam beberapa kali penjelasannya ia seringkali juga menyampaikan beberapa keluhan terhadap manajemen. Padahal, menurut saya, ia cukup lama bekerja di perusahaan ini (kurang lebih lima tahun) dan dalam posisi cukup senior. Tapi kenapa dia melakukannya, apalagi kepada karyawan baru seperti saya? Setelah itu saya mencari tahu dan ternyata ia memang sudah pamitan mau keluar dari perusahaan. Tapi masih menunggu proses serah terima jabatan dan melatih karyawan – karyawan baru seperti saya.

Yang saya rasakan — bukan karena saya sentimen — yang dia lakukan seperti menebarkan racun kepada orang – orang di sekitar tim kerjanya. Sebagai orang baru, saya mendapatkan kesan – kesan negatif yang disampaikan orang yang seharusnya jadi panutan saya. Saya sendiri juga serba salah atau tepatnya bingung. Mau mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap atasan tersebut, takut nantinya dicap “orang baru sok jago”. Saya merasa tidak nyaman tapi harus bagaimana, Bu ? Mohon dibantu, terimakasih. Yasinta, Jombang

Jawaban :

Yasinta, saya bisa merasakan kebingungan Anda. Sebagai karyawan baru yang masih belum punya gambaran tentang pekerjaan baru dan lingkungan kerjanya, lumrah jika mengalami kebingungan karena lingkungan (dalam hal ini atasan) justru tidak membantu Anda untuk segera dapat menginternalisasikan nilai-nilai perusahaan.

Kondisi demikian memang jarang terjadi, dimana atasan yang seharusnya memberikan bantuan agar karyawan baru segera dapat beradaptasi sedang dalam kondisi “setengah hati” karena yang bersangkutan mau keluar dan punya kesan negatif (meskipun tidak seluruhnya) serta tidak puas terhadap manajemen. Jika pihak manajemen mengetahui hal ini, sebaiknya segera menarik tugas atasan tersebut untuk memberikan orientasi kepada karyawan baru. Karena jika dilanjutkan, lebih banyak dampak negatif yang akan terjadi dari dampak positifnya.

Yang penting dan saya salut, Anda menyadari kejanggalan tersebut, meskipun sulit untuk menentukan sikap. Karena dengan demikian, Anda tidak sekedar larut dalam arus yang menyesatkan. Kunci utamanya, Anda harus paham bahwa tidak ada seorang pun yang bisa terpuaskan 100 %. Sebaik apapun manajemen perusahaan,  tidak semuanya bisa memuaskan semua karyawannya dan dalam masing – masing manajemen perusahaan selalu ada plus dan minusnya. Jadi jika atasan tersebut tidak puas, adalah sesuatu yang wajar.

Ingat, sebagai orang baru fokus Anda adalah sesegera mungkin beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Waktu Anda juga tidak banyak, karena biasanya dalam waktu tiga bulan pertama perusahaan akan memantau perkembangan adaptasi Anda. Jika dari penilaian selama tiga bulan tersebut kemudian Anda dinyatakan gugur, Anda sudah kehilangan dua kesempatan. Kesempatan pertama adalah menunjukkan bahwa Anda mendapatkan tempat / kesempatan kerja yang lebih baik dari pekerjaan Anda terdahulu.. Kesempatan kedua adalah menunjukkan bahwa Anda mampu beradaptasi di pekerjaan baru tersebut.

Dimanapun Anda bekerja, harus bisa menunjukkan bahwa Anda bermanfaat bagi orang lain. Yang dimaksud disini adalah apa yang Anda lakukan dapat diterima orang lain. Sepintar apapun orang, jika apa yang dilakukan tidak mendatangkan hasil atau diterima oleh atasan / rekan kerja / departemen / perusahaan, maka dia tidak berarti apa – apa. Untuk mendapatkan penerimaan, Anda tidak harus selalu bergantung pada atasan, jika apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan nilai – nilai yang berlaku.

Dalam suatu lingkungan kerja rumus 70 : 20 : 10 biasanya berlaku. Penjelasannya demikian: 70% bawahan akan berperilaku positif jika atasan memberikan contoh positif. 20 % bawahan akan berperilaku positif meskipun atasan berperilaku negatif dan 10% bawahan berperilaku negatif meskipun atasan memberikan contoh perilaku positif. Dari uraian tersebut, saya berharap Anda termasuk golongan 20 tersebut. Karena orang – orang yang termasuk dalam golongan tersebut adalah orang – orang yang sadar bahwa ia bekerja untuk kemajuan dirinya. Karena itu, ia tidak peduli meskipun sehari – harinya melihat atasan memberikan contoh positif bagi kemajuan pekerjaan / perusahaan.

Jika Anda telah tahu latar belakang atasan tersebut, Anda tidak perlu menggantungkan dia sebagai satu-satunya referensi untuk mengenal perusahaan. Anda bisa minta penjelasan dari rekan kerja atau manual-manual yang mungkin ada di perusahaan. Departemen HRD atau Personalia juga bisa menjadi sumber informasi yang akurat tentang perusahaan. Banyak jalan menuju ke Roma, karena itu gabungkan cara-cara lain yang dapat mendukung tujuan Anda.  Semoga berhasil melewati masa percobaan dengan baik. Dan akhirnya, selamat berkarir!

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Sikap Negatif Atasan Baru

Pengembangan Karir – Atasan Plin Plan

Pengembangan Karir – Atasan Plin Plan

pengembangan karir atasan plin plan

Pengasuh yang terhormat. Saya, 30 tahun, bekerja di bagian operasional perusahaan pelayanan publik milik negara. Saya menghadapi problem yang menurut saya cukup serius. Saya punya atasan yang tidak bisa bersikap tegas. Maksudnya begini, jika saya minta pertimbangan suatu hal, ia sering tidak menyetujui. Banyak pertimbangan dan sepertinya takut mengambil risiko. Tapi nyatanya setelah cabang lain melakukan aktivitas seperti usulan saya dan terbukti berhasil, baru ia memperbolehkan dijalankan. Tapi bukankah sudah terlambat. Kejadian demikian sering berulang dan sangat berpengaruh terhadap kinerja saya. Karena sering ketinggalan kereta. Saya sendiri jadi geregetan karena mestinya mampu melakukan, tapi akhirnya sering hanya jadi penonton.

Sementara teman-teman lain sepertinya bisa menerima kebiasaan atasan yang demikian. Nampaknya hanya saya yang merasa tidak suka dengan situasi sekarang. Bisa Ibu bayangkan bagaimana tidak enaknya punya atasan plin plan, sementara di sisi lain, saya punya ide-ide yang tidak bisa direalisasikan. Saya hanya bisa bertahan agar segera bisa mutasi, apakah atasan atau saya. Sementara itu apa yang harus saya lakukan? Terima kasih atas solusinya, Bu.  Ghani, Mojokerto

Jawaban:

Sdr. Ghani, saya memahami kondisi Anda. Sebagai orang muda yang memiliki ambisi dan kreativitas yang tinggi, Anda mengharapkan gebrakan-gebrakan dinamis dan kreatif dalam pekerjaan Anda. Ini memang sesuai dengan irama jiwa orang muda. Namun karena terbentur dengan sistem dan karakter atasan yang sedikit membatasi gerak Anda, Anda tidak dapat mengekspresikannya dalam pekerjaan sekarang. Anda merasa atasan menghambat karir Anda, terlalu kaku, dan mungkin lambat bertindak.

Dalam bekerja memang seringkali kita tidak dapat memilih situasi atau kondisi yang pas dan dapat memuaskan keinginan kita. Memasuki lingkungan kerja, kita akan berhadapan dengan tuntutan pekerjaan, rekan kerja, atasan dan lingkungan yang bervariasi, yang terkadang di luar prediksi. Seperti yang terjadi pada Anda, tidak salah jika Anda mengharapkan punya atasan ideal yang dapat tegas bersikap, selalu mempunyai visi ke depan dan dapat memotivasi bawahannya. Kenyataannya, tidak semua pimpinan adalah pemimipin yang punya kualitas baik.

Pengangkatan atau penunjukan pimpinan tidak selalu berdasarkan kualitas pribadi dan atau kualitas manajerial yang dimiliki. Pimpinan bisa saja menjabat karena penunjukan atau juga senioritas, Jika yang terjadi demikian, maka jangan berharap terlau banyak terhadap kualitas kepemimpinannya. Mungkin yang terjadi di perusahaan Anda demikian. Karena itu tidak ada pilihan kecuali menerimanya. Tapi bukan berarti Anda harus berdarah-darah dipimpin seorang yang demikian. Justru dengan kekurangan yang dimiliki pimpinan, Anda mempunyai peluang untuk menjadi orang yang dapat diandalkan oleh perusahaan.

Jangan patah arang, cobalah untuk mengambil kesempatan di mana kondisi pimpinan kurang tegas justru berbalik dapat mempercayai Anda untuk melakukan gebrakan-gebrakan penting. Bukan berarti Anda akan menelikung atau melakukan sesuatu yang negatif. Tetapi mencoba menunjukkan bahwa jika usulan Anda dijalankan, maka manfaat yang akan diperoleh adalah bagi keberhasilan seluruh tim. Karena itu pula harus dipastikan juga Anda sendiri harus punya kualitas tersebut.

Seorang yang kurang tegas mengambil keputusan, biasanya membutuhkan data, fakta atau jawaban tentang situasi terkait dengan keputusan tersebut. Karena ia tidak atau belum dapat melihat kemungkinan yang akan terjadi, dan tidak dapat menghitung risikonya, maka ia perlu waktu lama untuk mempertimbangkannya. Yang demikian ini memang menjengkelkan bagi bawahannya. Karena akhirnya banyak keputusan yang digantung tanpa kepastian dan bawahan melihat atasan hanya mengamankan posisinya.

Karena itu, pastikan jika Anda akan mengajukan usulan lagi, sertai dengan data-data/fakta-fakta yang berkaitan dengan implementasinya serta kemungkinan kesulitan pelaksanaannya. Begitu pula  dampak/akibat dari pelaksanaan usulan tersebut. Jika mungkin lengkapi dengan juga dengan beberapa alternatif kemungkinan dampak terburuk. Ini penting agar pimpinan benar-benar siap mental dan melihat kemungkinannya akan sampai kesana. Tapi jangan berhenti sampai di situ saja, karena dampak buruk pasti adalah sesuatu yang tidak diharapkan dan pasti mengerikan. Karena itu siapkan juga alternatif jalan keluarnya.

Jika Anda mengatakan pernah mengajukan usulan dan kemudian terbukti berhasil dijalankan orang lain, cari kesempatan untuk mendekati atasan di luar kesibukan pekerjaan. Misalnya pagi hari atau sore hari selepas jam kerja, dimana kondisi seseorang biasanya lebih rileks dan belum terbebani masalah rutinintas pekerjaan. Mintalah kesempatan untuk membuktikan bahwa usulan atau rencana Anda selanjutnya boleh dijalankan. Dengan data lengkap seperti di atas, kemungkinan besar pimpinan bisa melihat dampak secara keseluruhan bagi unit / cabang Anda. Biarkan dia juga melihat bahwa dia juga akan mendapatkan “nama” karena keberhasilan tersebut.

Dengan tetap bersikap santun dan menghargai atasan, saya yakin ia akan menaruh kepercayaan pada Anda. Dan jika satu proyek usulan itu berhasil berjalan seperti rencana Anda, saya yakin dalam urusan-urusan lain yang menjadi keahlian Anda, selanjutnya ia akan menyerahkannya penuh kepada Anda. (*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Atasan Plin Plan

Pengembangan Karir – Disabot Teman Sekantor

Pengembangan Karir – Disabot Teman Sekantor

pengembangan karir Disabot Teman Sekantor

Pengasuh terhormat, saat masuk diterima kerja di perusahaan sekarang (industri dan distribusi bahan kimia), saya bersamaan dengan seorang teman. Sama-sama di Departemen Technical Support dengan spesialisasi tugas yang berbeda. Prestasi kami dapat dikatakan lumayan. Saya merasa punya kekuatan dalam aspek relasi sosial dan teman saya unggul dalam kemampuan analisa. Awalnya dengan kondisi demikian, saya merasa OK-OK saja. Belakangan diam-diam ada persaingan tidak sehat. Beberapa kali ia menyimpan informasi yang mestinya disampaikan kepada saya, sebagai tambahan informasi ketika harus follow up klien. Dan ini berakibat fatal terhadap hubungan klien dengan saya. Akhirnya saya harus berusaha ekstra keras untuk mengembalikan kepercayaan klien tersebut memakai produk kami.

Dalam situasi yang lain, saya juga melihat kejadian serupa yang dialami rekan lain. Saya sebenarnya juga menyadari bahwa dalam dunia kerja selalu ada kompetisi. Tetapi bagaimana saya harus bersikap dalam menghadapi kompetisi tersebut? Fahmi, Sidoarjo

 Jawaban:

Kesadaran Sdr.Fahmi  bahwa kompetisi selalu muncul dalam dunia kerja sangat membantu Anda dalam menghadapinya secara lebih tenang. Karena tidak semua orang bisa lapang dada dan siap bersaing. Kelihatannya memang sadis, tapi begitulah kenyataannya. Namun perlu diingat bahwa yang diharapkan adalah kompetisi secara sehat.

Jika diamati, dorongan berprestasi biasanya muncul justru karena adanya iklim kompetisi tersebut. Sifat dasar manusia untuk menurutkan dorongan negatif seringkali menjadi penghambat bagi karyawan sehingga tidak siap untuk berkompetisi. Apalagi dalam dunia bisnis, dimana posisi “atas” jumlahnya makin sedikit. Sehingga hanya yang benar-benar  struggle yang bisa mendapatkannya.

Di sinilah bermulanya kompetisi tidak sehat, dimana ketidaksiapan bersaing dialihkan dalam bentuk intrik. Seseorang tidak bisa melihat secara obyektif keunggulan orang lain, apalagi mengakui dan kemudian memberikan rasa respek. Karena ingin menang dalam kompetisi, seseorang berusaha menunjukkan kualitas diri dengan menjadi penjilat. Tanpa menyadari dampak dari sikap tersebut sangat buruk bagi lingkungan kerja dan keharmonisan hubungan kerja.

Berkompetisi secara sehat di tempat kerja, pertama sekali yang harus disadari adalah dalam setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang, ia dituntut untuk bisa memberikan yang terbaik kepada perusahaan. Karena perusahaan hanya akan memberikan reward  kepada yang terbaik dan biasanya diukur dalam bentuk output.

Melakukan usaha terbaik bisa juga diwujudkan dengan berusaha kreatif dan produktif sesuai dengan kemampuan. Karena itu kesediaan untuk terus belajar dan mengasah ketrampilan harus ditumbuhkan terus. Dengan demikian, seseorang akan punya “gigi”. Kegiatan ini bisa dalam bentuk pelatihan / kursus formal, secara rutin membaca buku atau diskusi dengan rekan kerja atau atasan.

Selanjutnya, tempatkan rekan kerja lain sebagai partner dan bukan sebagai musuh. Yang harus diingat adalah bukan menang secara mudah, tapi menang sesuai rule of the game (ingat salah satu iklan rokok yang berbunyi: “Daripada curang, lebih baik ganti aturan permainannya” ? ). Tunjukkan kemampuan yang dimiliki dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Bersaing secara positif akan membantu meningkatkan reputasi di mata rekan kerja lain.

Yang sebaliknya, jangan terperangkap berusaha bertahan sebagai bagian dari kelompok karena ada perasaan tidak enak jika harus bersaing dengan sesama teman. Karena itu pisahkanlah urusan kerja dengan masalah pribadi. Sikap kerja professional sangat menuntut kemampuan ini. Mungkin sulit, tapi cobalah kapan harus berbagi informasi, kapan menolak memberikan atau kapan saling membantu dan mengawasi diri masing-masing. Prinsip yang harus dipegang adalah jangan merugikan orang lain. Kenyataan yang harus Anda ketahui,  dalam bekerja lebih baik dihormati daripada disukai.

Setiap pertandingan selalu ada pemenangnya. Karena itu usaha terbaik yang pernah dilakukan tidak akan pernah sia-sia, meskipun gagal. Dan ini adalah lebih baik daripada menutup kesempatan berpartisipasi dalam kompetisi dan menolak menunjukkan kemampuan diri. Akhirnya, selamat berkompetisi!

 

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Disabot Teman Sekantor

Pengembangan Karir – Susahnya Punya Atasan Nyantai

Pengembangan Karir – Susahnya Punya Atasan Nyantai

pengembangan karir Susahnya Punya Atasan Nyantai

Pengasuh Konsultasi Karir di tempat. Saya karyawan di sebuah perusahaan dan baru dua tahun saya bekerja disana. Saya bingung dengan sikap atasan saya. Di satu sisi ia sangat dekat dengan bawahannya, dan karena itu suasana kerja jadi tanpa ada gap. Tapi si sisi yang lain, ia juga dibenci oleh beberapa karyawan yang lain. Dalam kondisi seperti di atas, rasanya tidak mungkin – dibenci sekaligus dicinta. Tapi kenyataan demikian adanya. Dari pengamatan saya, ini berasal dari sikapnya yang kurang perhatian dengan pekerjaan kantor. Ia cenderung mengabaikan persoalan dan jika muncul masalah seringkali berusaha menghindar. Maaf jika ini berlebihan, ia bahkan tidak pernah mengontrol pekerjaan bawahannya, termasuk pekerjaan saya. Apalagi menegur jika pekerjaan tidak selesai. Tentu saja sikap demikian ini  membuat beberapa teman yang lain senang. Tapi tidak bagi sebagian teman yang lain, karena kerja jadi mengalir begitu saja.

Saya pribadi termasuk orang yang tidak suka dengan situasi demikian. Karena seorang yang bekerja sungguh-sungguh dengan yang hanya datang kantor tanpa tujuan dan menunggu waktu jam kerja usai hampir tidak ada bedanya.  Bukan bermaksud mengunggulkan diri dan menunjukkan kerja paling keras, tapi kerja jadi tidak ada gregetnya. Memang departemen saya adalah departemen supporting, dimana tidak langsung berhubungan dengan pelanggan dan target kerja lebih banyak bersifat kualitatif serta tidak punya deadline ketat. Sementara itu antara atasan saya dengan atasan di atas lagi ada hubungan baik, karena itu meskipun kondisinya demikian namun posisinya atasan saya tetap aman.

Sebagai informasi, kami hanya sibuk pada bulan-bulan tertentu, jadi di luar bulan itu relatif banyak “acara santai”. Bu, bagaimana saya harus bersikap dalam situasi demikian. Menggurui atasan jelas tidak mungkin, tapi bertahan dan diam saja malah membuat saya merana. Mohon saran dan masukannya, Salam manis dan semoga sukses selalu menyertai Ibu.                                                                                                      Nur Rifki., Pasuruan

 Jawaban:

Saya dapat merasakan bagaimana sumpeknya Anda berada dalam situasi yang tidak diharapkan tetapi harus menghadapinya setiap hari. Namun di sisi lain tidak dapat berbuat apa-apa meskipun makan hati melihat situasi yang tidak kondusif.

Seorang pemimpin (terlepas apakah ia dicintai atau tidak) biasanya karena ia mempunyai kualitas pribadi yang kuat dan karismatik. Selain mempunyai visi yang jelas dan dapat mengarahkan anggota timnya menuju sasaran bersama, ia juga seorang yang gigih memperjuangkan kemajuan timnya dan juga berani mengambil resiko.. Karena kualitas pribadi yang dimiliki itu sehingga biasanya seorang pemimpin dipilih oleh anggotanya. Dalam beberapa organisasi / perusahaan, seorang pimpinan tidak selalu ditunjuk karena kualitas pribadi yang dimiliki. Pertimbangan senioritas dan penunjukkan bisa juga mengukuhkan posisi seorang menjadi pimpinan.

Dalam satu kelompok, pemimpin adalah orang yang paling sering diperhatikan dan didengarkan suaranya. Karena itu, semangat dan hal-hal yang dilakukan oleh seorang pemimpin  (meskipun ia tidak selalu hadir secara fisik), biasanya akan menjiwai dan menjadi semangat bagi anggota kelompoknya.

            Kembali pada kasus yang Anda alami, dimana pimpinan Anda justru memberikan contoh-contoh tindakan yang dapat menghambat kemajuan tim yang dipimpinnya. Ada dua kemungkinan. Pertama, ia menjadi pimpinan karena senioritas dan bukan karena kualitas pribadi yang dimiliki. Kondisi demikian membuat ia tidak menyadari tanggung jawab moralnya sebagai motor dan pendorong bagi mesin kelompoknya. Kedua, ketidakjelasan fungsi bisa juga membuatnya bingung dalam bertindak, karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam jabatan tersebut sehingga memilih mendiamkannya saja. Dalam situasi yang demikian, seorang yang tidak tegas akhirnya membiarkan begitu saja tim mengalir. Orang lain juga menilai ia tidak pernah mengontrol dan menegur karyawan yang tidak menjalankan fungsinya.

Apa yang dia lakukan nampaknya didukung pula dengan sistem dari manajemen yang kurang berorientasi pada hasil. Tidak ada target yang jelas, serta sanksi bagi anggota yang tidak memenuhi kewajiban dan bahkan melanggarnya. Karenanya, demikian mudahnya ia menghindar ketika ditanya tenggat waktu penyerahan laporan dan teladan perilaku bagi anggotanya. Karena selau berhasil “ngeles” , ia bahkan tidak menyadari jika hal demikian ini dilakukan terus-menerus, maka tidak hanya timnya yang akan hancur tetapi juga karir pribadinya.

            Dalam kondisi seperti sekarang, memintanya berubah memang susah. Namun Anda dapat memulai dari diri sendiri agar tidak terseret kedalam ritme kerja yang ada sekarang. Periksa kembali tanggung jawab apa saja yang melekat pada jabatan Anda. Dari sana kemudian  perinci ke dalam target kerja. Jika memang tidak jelas, Anda dapat mulai menentukan kualifikasi hasil apa yang diharapkan dari tugas yang demikian agar dapat memuaskan orang lain/departmen yang mungkin berhubungan dengan pekerjaan Anda. Selanjutnya tetapkan juga perkiraan waktu  penyelesaian yang diharapkan.

Dimulai dengan “menggandeng” beberapa teman yang masih punya idealisme seperti Anda, biasakan untuk bekerja dengan format demikian. Jika perlu ajukan kepada atasan usulan Anda sehingga ia juga merasa terlibat. Dalam situasi yang demikian bisa jadi di tahap awal ia akan menolak dan malah menuduh Anda terlalu berlebihan. Pendekatan dan cara yang tepat akan membantu mendapatkan pengakuan dari atasan.

Jika masih mentok juga, mungkin Anda yang harus berpikir ulang apakah memang Anda masih bisa beradaptasi dan mempunyai kesabaran menghadapi situasi kerja yang demikian. Jika tidak, maka segera pertimbangkan untuk pindah ke bagian lain atau mungkin mencari pekerjaan lain jika memang gaya kerja demikian telah menjadi budaya yang sulit untuk dirubah menjadi lebih baik. Saya berharap semoga Anda dapat menjadi terang bagi lingkungan dimana pun Anda bekerja.(*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Susahnya Punya Atasan Nyantai

Pengembangan Karir – Menghadapi Atasan yang Pemarah

Pengembangan Karir – Menghadapi Atasan yang  Pemarah

pengembangan karir Menghadapi Atasan Pemarah

Saya karyawan baru di perusahaan mebel, di bagian QC. Plant Manager saya ternyata seorang yang keras, perfeksionis dan tidak terbantahkan. Jika marah atau menemui kesalahan, kemarahan seringkali tidak hanya di bagian di mana ditemukan kesalahan itu, tapi juga siapa saja yang dekat dengan lokasi tersebut. Informasi yang saya dapat, ia masih ada hubungan family dengan pemilik perusahaan. Mungkin karena posisinya relatif kuat, ia berbuat demikian.

Teman – teman lain dalam satu bagian takut dan seringkali menjadikan guyonan jika ada teman lain yang sedang sial, kena marah. Bahkan sebutan ruang kerjanya diplesetkan menjadi “kandang singa”. Meskipun saya belum pernah kena “semprot”, tapi saya tidak mau ketakutan seperti mereka yang lain. Mohon tips dari Ibu bagaimana menghadapi atasan dengan karakter demikian. Sukses selalu untuk Ibu. Yudi, Probolinggo

Jawaban:

Saudara Yudi, kondisi yang Anda hadapi terjadi juga terhadap banyak orang di tempat kerja lain. Dan yang membedakan dengan orang lain adalah bahwa Anda tidak merasa kecil hati dan pasrah menghadapinya, dan sebaliknya berusaha mencari solusi terbaik.

Anda nampaknya cukup memahami, dalam banyak hal orang dengan karakter demikian biasanya to the point, dominan, agresif dan karenanya terkesan selalu mau menang sendiri. Sulit untuk mengubah karakter yang demikian, apalagi jika usianya sudah cukup matang. Yang bisa dilakukan adalah menyiasati agar kita bisa beradaptasi dan diterima ketika harus menggolkan suatu rencana.

Yang terpenting adalah, jangan kacaukan antara respek/hormat dengan rasa takut. Seorang yang powerful tidak punya banyak waktu untuk mengurusi seorang pesakitan yang ngeri. Meskipun juga  (kemungkinan) di masa lalu pernah ada masalah dengan dia. Lebih baik lupakan dan jangan biarkan mempengaruhi kesan sekarang ketika berbicara dengannya.

Karena itu, jika sekali waktu harus dan perlu berhubungan dengan beliau, jangan terpengaruh oleh kesan rekan-rekan kerja yang lain yang pernah kesemprot. Anda boleh waspada, tapi jangan menjadikan kecil hati. Bahasa tubuh orang ketakutan akan bisa terbaca dan mempengaruhi reaksi lawan bicara. Dari situ, Anda sudah kalah sebelum bertanding.

Yang selanjutnya perlu dan seorang dengan power sangat tinggi biasanya hanya ingin mendengar headline. Karena itu jika akan menghadap, siapkan segala sesuatunya secara baik dan cari dua atau tiga kalimat kunci tentang hal yang akan disampaikan. Jelaskan langsung poin-poinnya, jangan bertele-tele karena ia hanya butuh informasi akurat. Ia menginginkan apapun yang dikerjakan, harus nyata dan jelas tujuannya. Ketika beliau sedang menyampaikan argumen atau analisanya (biasanya tetap juga dengan nada menghakimi), jangan menantang secara frontal. Dan sebaliknya, juga jangan defensif. Yang dimaksud defensif adalah berusaha membenarkan pendapat kita tetapi dengan menggunakan pembenar-pembenar yang dicari-cari, sehingga terkesan seperti debat kusir.

Terima dulu argumennya, sampaikan alasan Anda secara runtut, sistematis dan faktual. Perhatikan reaksinya, jika postif dan  memungkinkan, baru sampaikan pandangan membangun atau analisa kritis. Jangan beranggapan orang dengan karakter demikian tidak membutuhkan masukan dari hal-hal yang disampaikan, meskipun terkadang hanya untuk menguji seberapa benar hal yang dipikirkan atau kemungkinan mendapat reaksi negatif dari lingkungannya.

Dan yang harus Anda perhatikan ketika ide Anda mendapat reaksi negatif adalah stop bicara meskipun sulit. Tunggu sampai lawan bicara selesai. Anda harus lebih aktif mendengarkan. Tidak ada cara lain, Anda harus menghadapi dengan empati. Selanjutnya analisa  kembali apa yang Anda dengar. Lalu jawab dengan tenang dan sensitif sehingga memudahkan Anda mengklarifikasikan tujuan. Selama Anda dapat membawakan diri dengan tepat dan mencoba menanggapi dengan empati, saya yakin Anda akan dapat mengatasi dengan baik. Semoga sukses selalu menyertai usaha Anda.(*)

Posted in Pengembangan Karir | Tagged , , , , | Comments Off on Pengembangan Karir – Menghadapi Atasan yang Pemarah