Pengembangan Karir – Bimbang Memilih Sekolah

Share Social

pengembangan karir bimbang memilih sekolah

Saya punya anak kelas III SMA, jurusan IPA. Nilai-nilainya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek. Beberapa kali ia pernah mengutarakan kepada saya, berminat untuk memilih kuliah di bidang ilmu sosial. Saya mencoba untuk memberikan gambaran kuliah ilmu-ilmu lain yang lebih aplikatif, tapi tampaknya ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

Tetangga sebelah, anaknya kuliah di FISIP (meskipun di PTN). Saya amati kalau berangkat kuliah pakaiannya apa adanya dan rambutnya gondrong. Orang tuanya juga prihatin karena teman-teman anaknya yang sering main ke rumah serupa dan cara berpikirnya (maaf, menurut pendapat ibunya) subversif. Waduh… waduh, saya jadi ngeri, apalagi dengar-dengar mereka jagonya demo.

Bukannya saya mau memaksakan keinginan kepada anak. Tapi kalau jadinya seperti itu, lalu bagaimana masa depannya? Padahal anak saya itu laki-laki, dan sebagai orang tuanya saya pasti berharap banyak kepada dia. Mungkin Ibu bisa memberikan pandangan baru kepada saya sebagai second opinion. Terima kasih sebelumnya. Ibu Sukananda, Surabaya

Jawaban:

Ibu Sukananda, saya bisa memahami kegalauan hati Anda. Orang tua, sebagaimana lazimnya memang selalu berupaya memberi yang terbaik untuk putra-putrinya. Pada era sekarang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memang lebih memberi peluang karier bagi mereka yang menekuni dunia yang berseluk-beluk dengan perkembangan Iptek.

Tetapi kalau kita lihat, pandangan seperti itu tidaklah sepenuhnya benar. Keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang pendidikan, latar belakang orang tua ataupun semata-mata kecerdasan intelektual. Hal-hal di atas ditunjang dengan kecerdasan emosi (EQ) dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit (AQ) lah yang banyak menentukan, apakah seseorang akan berhasil atau tidak.

Jika ditinjau, Ilmu Hukum juga termasuk ilmu sosial. Beberapa tahun terakhir, profesi sebagai lawyer termasuk profesi yang naik daun, prestisius, serta menjanjikan kemakmuran materi.

Dari jurusan ilmu sosial lainnya, kita bisa menyebutkan beberapa nama  dari Jawa Timur, seperti pengamat politik muda yang sedang naik daun misalnya Anas Urbaningrum. Ada juga peneliti dan pengamat sosial yang terkenal seperti Bagong Suyanto, Dr Daniel Theodore Sparingga yang kini menjadi selebritis baru karena aktivitasnya yang sangat padat dari satu meja seminar ke meja seminar lainnya. Ada juga nama aktivis wanita seperti Pingky Saptadari. Pada generasi yang lebih lama, masyarakat Surabaya niscaya mengenal benar nama Prof Soetandyo Wignjosoebroto, Prof Hotman Siahaan, Prof Ramlan Surbakti.  Pandangan-pandangan tiga ilmuwan ilmu sosial dan politik ini, bahkan banyak memberikan sumbangan pemikiran bagi kepentingan bangsa.

Meski tidak sengetop mereka, banyak juga lulusan FISIP dari berbagai jurusan seperti Administrasi Negara, Sosiologi, Ilmu Politik yang sukses menjadi pengusaha, politisi, tentara hingga birokrat. Banyak juga yang menjadi wartawan handal dan punya nama. Selain itu banyak juga yang sukses menjadi pimpinan divisi marketing sebuah perusahaan besar. Setahu saya juga ada ratusan alumni FISIP Unair yang kini berprofesi sebagai bankir.

Kalau melihat semua itu, peluang kerja — bahkan menciptakan kesempatan kerja sendiri— dari kalangan alumni ilmu-ilmu sosial tidaklah buruk benar. Sekalipun harus diakui, banyak juga yang masih belum mendapat pekerjaan setelah enam bulan menganggur.

Karena itu, Ibu sebenarnya tidak  perlu terlalu khawatir dengan masa depan putra Anda yang berkeinginan berkuliah di jurusan ilmu sosial. Kunci dari semua itu, ada pada apa yang putra Anda kerjakan pada masa kuliah nantinya untuk mendapatkan nilai tambah sebelum memasuki dunia kerja.

Menurut saya pribadi, sebagai orang tua, Ibu sudah sangat beruntung. Keinginan putra Anda memilih kuliah di ilmu sosial, harusnya juga dipahami sebagai bentuk tanggung jawab seorang anak pada orang tua. Di pihak lain, pilihan itu juga menunjukkan kecerdasan emosi dari putra Anda dalam melihat kemampuan dirinya sendiri.

Melihat prestasinya selama pendidikan di SMU jurusan IPA, mungkin putra Anda sampai pada kesimpulan, dirinya memang tidak punya kemampuan untuk menjadi yang terbaik pada jurusan itu. Jika itu yang terjadi, Anda patut bersyukur karena Anda bisa menggunakan hal itu sebagai pijakan untuk bicara dari hati ke hati dengan putra Anda. Dalam pembicaraan dari hati ke hati itulah Anda bisa melakukan semacam tawar-menawar dengan putra Anda, misalnya, boleh berkuliah sesuai keinginan tetapi dengan syarat: harus menjadi yang terbaik selama masa kuliah, tidak boleh bersekolah dengan kaos dan bersandal jepit.

Bahkan Ibu bisa meminta syarat: dilarang ikut demonstrasi. Khusus larangan terakhir ini, mungkin akan sulit karena mereka yang ahli demonstrasi saat ini bukan hanya mahasiswa jurusan ilmu sosial. Mereka yang berkuliah dalam bidang eksakta pun sebenarnya tidak jauh berbeda. Anda juga bisa memberi syarat tambahan, misalnya, harus ikut les bahasa asing, bisa Inggris, Prancis, Jepang atau bahasa Mandarin yang pada kurun waktu ke depan akan kian dibutuhkan dalam dunia kerja.

Jika putra Anda minatnya berkuliah pada ilmu sosial memang sangat besar, proses tawar-menawar persyaratan tentu bisa mudah dilakukan. Harus diakui, itu semua tidaklah mudah. Tetapi dengan bimbingan kasih sayang seorang ibu, saya yakin Anda bisa mengarahkan putra Anda menjadi manusia yang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan masa depannya.(*)