Pengembangan Karir – Business Agility di Tengah Krisis Ekonomi

Share Social

Pengembangan Karir – Business Agility di  Tengah Krisis Ekonomi

sertifikat profesi

Kita sekarang hidup dalam abad kecepatan dan perubahan yang dramatis. Kecepatan mengakibatkan banyak hal, mulai dari ketidaksabaran konsumen, kecepatan gerak dunia keuangan hingga perubahan signifikan dalam cara berbisnis. Begitu pesatnya perubahan sehingga beberapa ilmuwan menjuluki abad ini sebagai abad VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Hal ini untuk menggambarkan betapa terjadi gejolak yang berubah-ubah dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Dunia saling terhubung dan tergantung satu sama lain serta banyak hal yang masih dipenuhi keragu-raguan.

Mencapai sebuah kondisi yang diharapkan di masa depan, untuk menghasilkan inovasi dan keunggulan baru serta menangkap peluang baru, kita membutuhkan agility (ketangkasan). Baik individu maupun organisasi membutuhkan agility. Agility dideginisikan oleh Gartner sebagai berikut “the ability of an organization to sense environmental change and to respond efficiently and effectively to that change”. Ability of a Business to ‘Sense, Interpret and Respond’ to ‘Events’ that may impact its survivability and competitive edge. Dalam beberapa literatur ilmiah agility disebut juga dynamic capability, yang dimaknai sebagai kualitas pengendusan yang cepat terhadap berbagai ancaman dan kesempatan, pemecahan masalah dan kemampuan berubah dalam menata “resource base”. Dengan kata lain agility adalah mentalitas pemenang, kapabilitas yang dibangun secara terus-menerus agar seseorang atau organisasi mampu merespons perubahan dengan tangkas, tepat waktu dan berkelanjutan.

“Agility means that you are faster than your competition. Agile time frames are measured in weeks and months, not years.”- Michael Hugos

Sejenak menengok kondisi riil krisis perekonomian yang saat ini sedang kita hadapi bersama. Dimana China sebagai penggerak ekonomi Asia, semakin terpuruk dengan tingkat pertumbuhan hanya sekitar 7 persen mendampingi indeks manufaktur yang sudah di bawah 50 sebagai titik nadir pertumbuhan. Afrika Selatan sebagai anggota BRICS juga tidak bisa diharapkan menjadi pendorong kelompok Afrika. Kondisi di Indonesia, pada kuartal pertama tahun 2015, mengikuti trend penurunan sejak kuartal empat tahun 2014, semakin menunjukkan gejala lampu oranye (siaga dan waspada). Artinya sudah melampaui lampu kuning (hati hati) tapi belum sampai ke lampu merah (bahaya).

Sektor makanan dan minuman sudah turun 10 persen mendampingi sektor lain yang selama ini jadi andalan ekonomi domestik. Kelesuan ini sangat dirasa, bahkan banyak pengusaha resto maupun rumah makan kecil sudah merasakan dampaknya secara nyata. Pengunjung sepi. Kalau Mal masih ramai, hanya untuk sarana rekreasi dengan belanja seadanya. Banyak yg menahan diri untuk berbelanja. Itu sebabnya banyak pengusaha yang mulai jor-joran obral diskon.

Apa yang harus dilakukan agar organisasi kita terbebas dari lenyapnya pasar karena terlibas teknologi, kompetisi, krisis atau kebuntuan kinerja ? Tidak ada pilihan: cara berbisnis harus berubah ! Peta bisnis yang berubah memaksa kita menggunakan cara-cara baru. Diperlukan perubahan dalam semua aspek organisasi dan pengelolaan yang diselaraskan dengan perubahan semua aspek dan sistem manajemen, seperti manajemen perencanaan, operasi, SDM, pemasaran, keuangan dan lain-lain yang harus ditata ulang.

Setelah dilakukan perubahan-perubahan strategis, diharapkan organisasi dapat lebih fokus pada tujuan khusus sehingga energi tercurah pada titik konsentrasi tertentu. Demikian juga berani bertindak karena punya aturan, operasi, cara kerja dan strategi yang baru. Proses transfer pengetahuan yang terjadi diharapkan dapat meminimalkan risiko dengan memanfaatkan pengalaman masa lalu yang dimiliki.

Perubahan terbaik memang sebaiknya dilakukan pada saat perusahaan mengalami kejayaan. Artinya kita tidak membiarkan perusahaan melewati trek yang dibentuk Sigmoid Curve melainkan lompat ke kurva kedua. Namun sebelum kondisi menjadi makin buruk, perubahan yang dilakukan akan membawa banyak manfaat, antara lain membidik peluang nische market. Dalam situasi krisis, pasar berubah sehingga kekhususan ini justru memunculkan peluang yang selama ini hampir terabaikan. Ceruk baru ini menjadi “angin baru” yang dapat membangkitkan motivasi karyawan di tengah kondisi sulit. Meskipun belum terjadi peningkatan produktifitas yang berarti serta pertumbuhan signifikan, namun strategi yang dijalankan diharapkan dapat mempertahankan posisi pasar.

Berubah adalah salah satu langkah agility. Menurut Donald Sull (2010) ada tiga jenis business agility, yaitu strategic agility, portfolio agility dan operational agility. Strategic agility adalah ketangkasan untuk melakukan perubahan strategis dan memasuki hal-hal baru yang berbeda dengan policy/strategi bisnis sebelumnya. Adapun portfolio agility adalah ketangkasan dalam memindahkan atau menggeser sumber daya yang dmiliki ke dalam salah satu unit usaha. Sedangkan operational agility adalah ketangkasan dalam merespon kejadian operasional baik yang terjadi tiba-tiba maupun rutin.

Business agility menjadi tantangan serius bagi eksekutif. Untuk meraih keunggulan daya saing, perusahaan harus mengembangkan operational agility. Melalui operational agility kita perlu memperkuat portofolio agility. Keahlian dalam mengorkestrakan unit-unit yang mandiri /self organizing tapi mampu bekerja sangat cepat dan spontan menjadi sangat menentukan. Portofolio pada sisi lain adalah sebuah ketangkasan menata resources agar mencapai kinerja optimal.

Modal penting tumbuhnya ketangkasan yang menentukan keberhasilan atau kegagalan organisasi adalah kualitas myelin. Kualitas myelin ini terbentuk dan terlatih dari kekuatan personal agility. Individu-individu yang tangguh akan menjadi kekuatan luar biasa bagi organisasi untuk bergerak dinamis mengikuti tuntutan. Adapun dimensi pertama personal agility adalah intellectual agility, yaitu kedalaman dan luasnya pengetahuan SDM; ketrampilan berpikir analitis dan kritis; kreativitas, rasa ingin mencoba, dan inovasi; kesungguhan untuk belajar terus-menerus; keterbukaan terhadap pengetahuan baru serta keberanian Intelektual.

Dimensi kedua adalah emotional agility, yaitu energi, kekuatan, dan daya saing; kemampuan mengendalikan emosi; adaptasi dan fleksibilitas; optimis, percaya diri dan self esteem; toleransi dalam menghadapi ketidakpastian; komitmen dan kegigihan dalam menghadapi kesulitan; disiplin dan kemampuan menunda kenikmatan; motivasi dalam menghadapi tantangan serta kemauan bekerja tanpa mengharap pengakuan. Serta dimensi ketiga physical agility, yaitu kapasitas fisik untuk mencapai hasil yang maksimal, untuk bekerja di luar jadwal, kemampuan berkonsentrasi serta toleransi terhadap kegiatan yang membosankan.

Individu yang tepat akan menjadi leverage (efek pengungkit) yang hebat dalam perubahan yang dibutuhkan agar organisasi agile. Individu yang demikian memiliki drive yang mendorongnya bergerak tangkas dan tidak mendiamkan masalah tetap sebagai masalah. Kumpulan individu dalam sebuah organisasi dengan iklim dan budaya kerja yang positif, akan menjadi dasar yang kuat terbentuknya kerja tim yang solid yang memungkinakan perubahan terealisasi dengan cepat. (*)