Pengembangan Karir – Cek Referensi Dalam Rekrutmen

Spread the love

pengembangan karir cek referensi

Ibu Pengasuh. Dalam proses seleksi karyawan yang dilakukan perusahaan kami, terkadang saya melakukan cek reputasi calon karyawan tersebut. Tapi itu tidak saya lakukan kepada semua orang, hanya kepada karyawan di bagian sales (penjualan). Karena posisi Salesman cukup rawan bagi perusahaan, dimana mereka juga membawa barang/produk. Informasi tentang karyawan tesebut biasanya didapat dari toko atau distributor produknya dimana itu juga merupakan kastemer kami. Informasi tentang calon karyawan tersebut juga kami dapat dari rekan sesama Salesman. Dari situ bisa didapat gambaran tentang bagaimana omzetnya, penagihan dan bagaimana hubungannya dengan kastemer-kastemernya.

Dari cara tersebut yang kami lakukan, seleksi untuk Salesman ternyata cukup efektif karena kami benar-benar hanya “melobi” mereka yang punya reputasi bagus untuk direkrut perusahaan. Kami mencoba akan memberlakukannya juga bagi karyawan bagian lain. Namun kami mengalami kesulitan, karena mereka kebanyakan adalah orang-orang yang dalam bekerja tidak berhubungan dengan pihak luar. Saya berpikir jika harus menghubungi dengan perusahaan lamanya, jangan-jangan saya tidak mendapatkan informasi yang sesungguhnya karena mereka pasti tidak rela kehilangan karyawannya. Menurut Ibu, apakah cek riwayat kerja memang tidak dapat dipakai untuk semua jabatan. Dan bagaimana cara melakukan supaya mendapat informasi yang kami butuhkan? Terima kasih atas jawabannya.                                                                                    Bambang, Gresik

Jawaban :

Sdr. Bambang, langkah yang Anda tempuh dalam seleksi untuk jabatan Salesman itu bisa digolongkan sebagai sebagai networking rekrutmen sekaligus cek referensi  Dalam proses rekrutmen, calon-calon karyawan yang didapat dari referensi orang (pemberi referensi) yang tepat memang yang paling efektif hasilnya. Seperti langkah yang telah Anda lakukan selama ini. Apalagi untuk Salesman, memang lebih mudah karena ukuran prestasi mereka bisa dikuantifikasikan dalam besaran omzet. Selain itu dalam pekerjaannya mereka juga berinteraksi dengan pihak luar sehingga lebih banyak orang yang bisa “menilai” sepak terjang mereka dalam bekerja.

Cek referensi, seperti telah saya bahas dalam minggu lalu, lebih efektif digunakan untuk jabatan-jabatan yang membutuhkan tanggung jawab dan kepercayaan cukup besar (terutama berkaitan dengan uang, formula, rahasia perusahaan, dsb.nya). Pada jabatan dengan level Supervisor ke atas (untuk berbagai jabatan) juga dianjurkan, karena nantinya ia memegang suatu posisi yang cukup penting. Adapun tehniknya akan saya uraikan di bawah.

Kapan cek referensi dilakukan? Karena sifatnya untuk mengkonfirmasikan dan memastikan beberapa hal tentang calon potensial yang akan direkrut, maka sebaiknya dilakukan di akhir rangkaian proses seleksi. Sebaiknya juga Anda harus yakin bahwa calon tersebut memenuhi kompetensi yang dibutuhkan oleh jabatannya. Pada tahapan ini dianjurkan ada beberapa calon potensial, sehingga tetap punya alternatif jika salah satu calon ternyata punya punya latarbelakang yang kurang menguntungkan di pekerjaan terdahulunya.

Melakukan cek referensi memang butuh kelihaian dalam melakukannya. Orang bilang gampang-gampang susah. Ada kendala-kendala yang sering muncul, seperti misalnya mantan atasan yang kecewa atau tidak senang karena stafnya keluar dari pekerjaan. Jika Anda menanyakan kepada orang tersebut, bisa ditebak,  informasi tentang yang bersangkutan pasti banyak bernada negatif. Jika tidak pandai-pandai melihat atau menemukan motif di balik informasi itu, Anda bisa salah dalam mengambil keputusan hanya karena informasi yang kurang akurat dan obyektif. Ini yang biasa disebut bad reference.

Hampir sama  dengan diatas, jika ternyata pihak yang dimintai referensi ternyata pernah berkonflik dengan calon potensial tersebut.. Dan kemudian, ia ingin melakukan balas dendam ketika Anda menanyakan reputasi yang bersangkutan. Atau mungkin pihak pemberi referensi yang dihubungi, ternyata berusaha menghindari pertanyaan atau mengganti arah pembicaraan ke hal yang berbeda sehingga respon yang nantinya didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan.

 Berikut adalah beberapa tips dalam melakukan wawancara dalam cek referensi: Fokuskan pertanyaan pada kinerja atau hal-hal yang berhubungan langsung dengan pekerjaan calon tersebut di masa lalu. Hindari pertanyaan yang terlalu personal atau menyangkut karakter, untuk menghindari kesan bahwa Anda kurang menghargai calon dan malah membuat yang menjawab merasa kurang nyaman.

Bersikaplah ramah dan bersahabat agar pemberi referensi tidak merasa sedang diinterogasi. Jelaskan identitas Anda dan apa maksud tujuan Anda menghubunginya. “Selamat siang, Ibu.  Saya Bambang dari PT. XXX. Perusahaan kami akan merekrut Bapak YYY. Sebagaimana tertera dalam riwayat hidupnya, ia pernah bekerja di perusahaan Ibu. Saya harap Ibu bersedia menjawab beberapa pertanyaan kami tentang terkait dengan pekerjaannya.

Selanjutnya tanyakan yang berkaitan dengan masa kerja (tanggal masuk kerja dan tanggal keluar dari perusahaan) serta riwayat jabatan selama bekerja disana, Jika dia juga membuat laporan, bagaimana dengan ketepatan pelaporan dan kebenarannya, bagaimana kedisiplinan, sikap kerja dan prestasi yang bersangkutan selama bekerja disana serta alasan mengapa dia keluar dari perusahaan. Waspadalah terhadap seluruh jawaban yang diberikan dan catat detilnya. Jangan membuat kesimpulan atau menilai kesan dari pembicaraan tersebut. Dapatkan fakta atau data dan tetaplah bersikap netral. Jika sudah cukup, ucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan dan waktu yang telah diluangkan.

Yang perlu menjadi perhatian, banyak perusahaan kurang memberikan referensi yang baik karena kecewa kehilangan karyawan. Oleh karena itu untuk mendapatkan jawaban yang dibutuhkan jangan hanya gunakan satu referensi dalam melihat seorang calon karyawan. Selalu cross check informasi tersebut dengan alasan yang disampaikan mengapa calon tersebut keluar dari perusahaan terdahulu. Seringkali terjadi jawaban yang tidak sama karena disampaikan dari sudut kepentingan yang berbeda. Yang satu dari sisi kepentingan manajemen, yang satunya dari sudut pandang karyawan. OK Pak Bambang, semoga jawaban di atas cukup membantu Anda untuk mencoba melakukannya. Salam. (*)