Pengembangan Karir – Disabot Teman Sekantor

Pengembangan Karir – Disabot Teman Sekantor

pengembangan karir Disabot Teman Sekantor

Pengasuh terhormat, saat masuk diterima kerja di perusahaan sekarang (industri dan distribusi bahan kimia), saya bersamaan dengan seorang teman. Sama-sama di Departemen Technical Support dengan spesialisasi tugas yang berbeda. Prestasi kami dapat dikatakan lumayan. Saya merasa punya kekuatan dalam aspek relasi sosial dan teman saya unggul dalam kemampuan analisa. Awalnya dengan kondisi demikian, saya merasa OK-OK saja. Belakangan diam-diam ada persaingan tidak sehat. Beberapa kali ia menyimpan informasi yang mestinya disampaikan kepada saya, sebagai tambahan informasi ketika harus follow up klien. Dan ini berakibat fatal terhadap hubungan klien dengan saya. Akhirnya saya harus berusaha ekstra keras untuk mengembalikan kepercayaan klien tersebut memakai produk kami.

Dalam situasi yang lain, saya juga melihat kejadian serupa yang dialami rekan lain. Saya sebenarnya juga menyadari bahwa dalam dunia kerja selalu ada kompetisi. Tetapi bagaimana saya harus bersikap dalam menghadapi kompetisi tersebut? Fahmi, Sidoarjo

 Jawaban:

Kesadaran Sdr.Fahmi  bahwa kompetisi selalu muncul dalam dunia kerja sangat membantu Anda dalam menghadapinya secara lebih tenang. Karena tidak semua orang bisa lapang dada dan siap bersaing. Kelihatannya memang sadis, tapi begitulah kenyataannya. Namun perlu diingat bahwa yang diharapkan adalah kompetisi secara sehat.

Jika diamati, dorongan berprestasi biasanya muncul justru karena adanya iklim kompetisi tersebut. Sifat dasar manusia untuk menurutkan dorongan negatif seringkali menjadi penghambat bagi karyawan sehingga tidak siap untuk berkompetisi. Apalagi dalam dunia bisnis, dimana posisi “atas” jumlahnya makin sedikit. Sehingga hanya yang benar-benar  struggle yang bisa mendapatkannya.

Di sinilah bermulanya kompetisi tidak sehat, dimana ketidaksiapan bersaing dialihkan dalam bentuk intrik. Seseorang tidak bisa melihat secara obyektif keunggulan orang lain, apalagi mengakui dan kemudian memberikan rasa respek. Karena ingin menang dalam kompetisi, seseorang berusaha menunjukkan kualitas diri dengan menjadi penjilat. Tanpa menyadari dampak dari sikap tersebut sangat buruk bagi lingkungan kerja dan keharmonisan hubungan kerja.

Berkompetisi secara sehat di tempat kerja, pertama sekali yang harus disadari adalah dalam setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang, ia dituntut untuk bisa memberikan yang terbaik kepada perusahaan. Karena perusahaan hanya akan memberikan reward  kepada yang terbaik dan biasanya diukur dalam bentuk output.

Melakukan usaha terbaik bisa juga diwujudkan dengan berusaha kreatif dan produktif sesuai dengan kemampuan. Karena itu kesediaan untuk terus belajar dan mengasah ketrampilan harus ditumbuhkan terus. Dengan demikian, seseorang akan punya “gigi”. Kegiatan ini bisa dalam bentuk pelatihan / kursus formal, secara rutin membaca buku atau diskusi dengan rekan kerja atau atasan.

Selanjutnya, tempatkan rekan kerja lain sebagai partner dan bukan sebagai musuh. Yang harus diingat adalah bukan menang secara mudah, tapi menang sesuai rule of the game (ingat salah satu iklan rokok yang berbunyi: “Daripada curang, lebih baik ganti aturan permainannya” ? ). Tunjukkan kemampuan yang dimiliki dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Bersaing secara positif akan membantu meningkatkan reputasi di mata rekan kerja lain.

Yang sebaliknya, jangan terperangkap berusaha bertahan sebagai bagian dari kelompok karena ada perasaan tidak enak jika harus bersaing dengan sesama teman. Karena itu pisahkanlah urusan kerja dengan masalah pribadi. Sikap kerja professional sangat menuntut kemampuan ini. Mungkin sulit, tapi cobalah kapan harus berbagi informasi, kapan menolak memberikan atau kapan saling membantu dan mengawasi diri masing-masing. Prinsip yang harus dipegang adalah jangan merugikan orang lain. Kenyataan yang harus Anda ketahui,  dalam bekerja lebih baik dihormati daripada disukai.

Setiap pertandingan selalu ada pemenangnya. Karena itu usaha terbaik yang pernah dilakukan tidak akan pernah sia-sia, meskipun gagal. Dan ini adalah lebih baik daripada menutup kesempatan berpartisipasi dalam kompetisi dan menolak menunjukkan kemampuan diri. Akhirnya, selamat berkompetisi!

 

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.