Pengembangan Karir – Karir “Batu Loncatan”

Share Social

Pengembangan Karir – Karir “Batu Loncatan”

pengembangan karir batu loncatan

Pertanyaan Pertama

Bu, saat sekarang saya sedang menunggu hasil wawancara perusahaan A yang cukup punya nama dengan tantangan pekerjaan yang saya sukai. Tapi nampaknya proses seleksi di perusahaan tersebut butuh waktu lama, sementara sekarang ini saya sedang tidak bekerja dan karena itu juga butuh kerja. Minggu  lalu saya wawancara dengan perusahaan B. Perusahaan ini tidak terlalu besar, dengan pekerjaan yang tantangannya tidak sebesar yang pertama tadi. Dan dua hari yang lalu saya dinyatakan diterima bekerja di sana.

Sementara saya masih mengharapkan tawaran dari perusahaan A. Sekarang saya bingung memutuskan apakah saya akan menerima penawaran perusahaan B itu. Bagaimana pendapat Ibu jika saya terima tawaran itu sebgai batu loncatan. Saya akan bekerja, sementara saya masih dalam status masa percobaan sehingga jika nanti perusahaan B itu menerima saya, pekerjaan ini akan saya lepas. Orang tua saya menasehati supaya saya tidak melakukannya. Bagaimana menurut Ibu ?                                                Yuliati, Sidoarjo

Pertanyaan Kedua

Saya baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi dengan nilai akademis bagus. Sebelum lulus saya memang banyak mengirimkan surat lamaran, karena saya tidak mau sudah lulus tapi baru cari-cari kerja. Saya juga tidak mau jadi pengangguran intelektual. Baru-baru ini saya menerima tawaran pekerjaan. Saya mensyukurinya karena sesuai dengan keinginan saya, sementara  banyak teman-teman saya yang masih cari-cari kerja. Tetapi di sisi lain, saya masih punya beberapa jadwal wawancara dengan perusahaan lain, dari lamaran-lamaran yang telah saya kirim sebelumnya.

Sekarang ini saya sedang mempertimbangkan, saya akan menerima tawaran pekerjaan itu dan merahasiakan penerimaannya. Sementara itu juga tetap meneruskan wawancara-wawancara yang sudah terjadwal itu, “siapa tahu ada sesuatu yang lebih baik muncul”… Bagaimana menurut Ibu? Terima kasih.                                                              Deddy, Gresik

Jawaban:

Sdri. Yuliati dan Sdr. Deddy, Anda berdua termasuk orang yang punya kesempatan besar untuk bersaing dalam mencari pekerjaan. Dan karena itu bersyukurlah sementara banyak orang lain yang mencari satu kesempatan saja susahnya minta ampun. Yang harus Anda berdua pahami sekarang adalah jangan sampai kesempatan besar yang terbuka itu lewat  begitu saja karena salah “menghitung”.

Maksud saya adalah Anda harus benar-benar mencermati dan bisa mengevaluasi nilai dari masing-masing tawaran kerja yang ada. Caranya adalah gunakan kesempatan dalam wawancara kerja sebaik mungkin untuk menggali tentang potensi perusahaan bagi perkembangan karir dan pribadi Anda. Setelah perusahaan melakukan wawancara, pada kesempatan terakhir aktiflah bertanya tentang pekerjaan yang ditawarkan dan juga jenjang karir di sana. Yang tidak kalah penting adalah mengumpulkan informasi dari orang / pihak yang mengenal dan tahu tentang perusahaan tersebut.   Dengan demikian, Anda bisa menghitung “nilai psikologis” masing-masing tawaran kerja.

Jadi Anda jangan hanya menghitung jumlah gaji yang akan Anda terima. Gaji yang tinggi memang penting, tetapi pada awal membangun karir hal itu bisa menjebak diri kita sendiri. Pada awal membangun karir yang selayaknya menjadi pertimbangan utama adalah peluang di masa depan bagi karir kita pada sebuah perusahaan. Apakah terbuka kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan karir dan pribadi secara optimal.

Yang perlu diperhatikan, pada saat kita baru bekerja dan tergoda peluang di tempat kerja baru, adalah adanya pantauan ekstra ketat pada karyawan baru. Jika Anda pada awal-awal kerja sudah sering meminta izin –apapun alasannya—untuk bisa mengikuti tes di tempat lain, mungkin akan menghadapi kesulitan. Belum lagi jika pihak perusahaan tempat Anda bekerja ternyata tahu Anda sedang melamar kerja di tempat lain. Jika Anda masih dibutuhkan, mungkin Anda akan dipertahankan sampai masa percobaan habis. Namun, bisa juga mereka langsung mengeluarkan dengan alasan Anda tidak bisa bekerja sesuai dengan harapan perusahaan. Ini tentu akan menjadi soal jika Anda ternyata juga tidak bisa diterima bekerja di tempat yang baru.

Sikap tegas perusahaan seperti itu harus dipahami, karena bagi sebuah perusahaan sikap terbuka,  kesetiaan dan etika juga merupakan salah satu ukuran penting dalam mengambil keputusan dalam mengangkat karyawan. Karena itu saran saya, jika “nilai psikologis” dari pekerjaan itu telah memenuhi harapan Anda, ambil saja tawaran kerja yang sudah di depan mata. Berfokuslah dan kerjakan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati. Etos kerja yang demikian akan menjadi dasar pembentukan nilai-nilai kerja yang positif, yang secara otomatis akan Anda lakukan di masa-masa selanjutnya. Di sisi lain, orang di sekitar Anda akan menghargai sikap kerja. Penghargaan awal demikian sangat penting apakah Anda akan terus bekerja di perusahaan tersebut ataukah di perusahaan lain. Jadi “siapa tahu ada yang lebih baik muncul”, bukan hanya kebetulan, tetapi satu momen yang akan terwujud karena sikap positif yang Anda bangun sendiri. Salam dan sukses selalu. (*)