Pengembangan Karir – Kurang Motivasi Kerja

Pengembangan Karir – Kurang Motivasi Kerja

Spread the love

pengembangan karir kurang motivasi kerja

Saya berusia 30 tahun, sudah menikah dan sudah empat tahun bekerja ini bekerja di sebuah perusahaan trading bagian operasional. Saya merasa perusahaan tidak memperhatikan kebutuhan karyawannya. Sebelum ada kenaikan BBM dan telepon kemarin, gaji yang kami terima sangat ngepas dengan kebutuhan hidup. Tidak ada tambahan uang transpor atau uang makan, seperti yang dilakukan oleh bebrapa perusahaan di wilayah kami berada.

Akibatnya saya jadi ogah-ogahan kerja karena merasa, biar pun saya bekerja keras, saya akan tetap begini-begini saja. Saya lihat teman-teman yang lain pun sebagian juga demikian. Untuk apa bekerja mati-matian jika hasilnya tidak ada. Mungkin Ibu punya informasi dimana ada lowongna kerja yang lebih baik untuk saya. Atau ada cara jitu yang bisa saya lakukan agar perusahaan mau memikirkan karyawannya? Terima kasih atas jawabannya.                                                                                                   Rahmad, Gresik   

Jawaban:

Sdr. Rahmad, kondisi perekonomian di Negara kita memang sedang terpuruk. Dan mau tidak mau akan mempengaruhi banyak aspek lain. Anda tidak sendirian dan nampaknya masih lebih baik dan beruntung dibandingkan dengan teman-teman Anda yang perusahaannya terpaksa tutup karena tidak mampu membiayai biaya operasional. Jika Anda pusing memikirkan (hanya) keluarga Anda, sebenarnya banyak pengusaha yang lebih pusingkarena harus memikirkan ratusan batau bahkan  ribuan karyawannya. Dalam kondisi yang demikian Anda tetap perlu bersyukur karena perusahaan tetap mampu bertahan.

Cobalah untuk tidak terlalu egois dengan berusaha mengevaluasi sumbangan apa yang telah Anda lakukan untuk perusahaan sebelum meminta yang sebaliknya. Tanyakan pada diri Anda, apakah selama ini sudah bekerja dengan benar? Apakah sekadar datang absen, menunggu waktu pulang, gajian, mengoptimalkan potensi yang dimiliki, mencari uang, atau sudah (berusaha) menghasilkan perbaikan dan efisiensi bagi perusahaan. Banyak orang bekerja hanya menghitung usaha fisik dan jumlah jam yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, tanpa berusaha untuk menghayati makna bekerja.

Jika demikian, nampaknya Anda perlu merombak pola pikir yang sekarang. Dalam kondisi akan datang yang makin kompetitif, orang-orang yang hanya menggantungkan dan berpasrah diri akan tergilas oleh mereka yang benar-benar memiliki kemampuan untuk berjuang dan bersaing. Jumlah perusahaan yang tutup makin banyak, berarti banyak pula orang yang sebenarnya punya kemampuan tapi karena kurang beruntung terpaksa berhenti kerja.

Di sisi lain, perusahaan akan makin selektif terhadap kompetensi yang dimiliki karyawannya. Karena itu hanya akan merekrut orang-orang yang berpotensi saja, lebih produktif dan dapat diandalkan. Di sinilah ancaman Anda yang sebenarnya karena perusahan akan benar-benar berhitung.

Secara tidak sadar kita sering mengabaikan potensi yang dimiliki. Bekerja hanya sesuai dengan perintah atau instruksi, bekerja tanpa perencanaan, malas atau takut mencoba hal baru, mengerjakan tugas sekadarnya atau menyelesaikan pada detik-detik terakhir. Dan justru di sela-sela waktu yang sebenarnya bisa dilakukan efisiensi tersebut, secara tidak sadar banyak beredar pembicaraan-pembicaraan negatif tentang perusahaan, atasan, ketidakpuasan terhadap policy dan sebagainya.

Dengan mensyukuri kondisi perusahaan yang ada sekarang dan potensi yang Anda miliki, cobalah untuk melakukan sedikit usaha agar Anda tidak merasa jenuh dan “bekerja begitu-begitu saja”.

Carilah inovasi atau alternatif bagaimana agar orang lain dapat melihat perubahan cara kerja atau hasil sehingga pekerjaan jadi makin mudah, cepat selesai, mudah dihitung atau makin rapi dan mudah mengambilnya. Dengan demikian, orang lain akan menghargai Anda, karena apa yang Anda lakukan bermanfaat bagi diri Anda, departemen Anda dan bagi perusahaan.

Bekerja dengan benar memerlukan penghayatan total terhadap pekerjaan itu sendiri. Hanya dari sanalah akan didapatkan hasil yang tidak hanya dapat diukur dengan sesuatu yang nyata, tetapi juga kepuasan terhadap proses, hasil dan kemajuan yang didapat. Buah dari proses itu akan dapat Anda nikmati tidak hanya untuk masa sekarang. Kebiasaan yang terbentuk ini akan bermanfaat sampai kapan pun, dimana pun Anda bekerja nantinya.

Hukum alam berlaku juga dalam kejadian seperti ini. Tidak ada buah tanpa kembang. Tidak ada hasil tanpa upaya. Karena itu coba evaluasi lagi apakah Anda sudah berusaha untuk menciptakan kemajuan, proses yang efisien. Jika belum, maka jangan keburu menanyakan hasil. Karena tidak ada hasil tanpa upaya maksimal. “Life is like a mirror – it never reflects more than we can put into it”. Hidup itu bagaikan cermin, hidup tidak pernah mencerminkan lebih dari yang dapat kita letakkan di dalamnya.

Sdr. Rahmad, mulai sekarang berhentilah beranggapan bahwa perusahaan bertanggung jawab untuk menyediakan rangsangan produktifitas agar karyawan tetap bersikap positif. Karena semuanya akan berpulang kembali kepada apa yang telah Anda lakukan. Mempertahankan pola pikir demikian justru akan membuat segala sesuatu  berjalan tidak baik. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat bercermin. (*)