Pengembangan Karir – Mendukung Istri Bekerja

Pengembangan Karir – Mendukung Istri Bekerja

pengembangan karir- mendukung istri bekerja

pengembangan karir- mendukung istri bekerja

Saya 38 tahun, mempunyai 3 anak dan dan mempunyai istri yang juga bekerja. Sebelumnya, ia pernah bekerja ketika kami belum punya anak sampai kelahiran anak kedua. Setelah itu berhenti bekerja (+ 5 tahun) karena mengurus anak kedua yang sangat butuh perhatian khusus dan lahir anak ketiga. Ia mulai bekerja lagi setelah anak ketiga kami berumur 3 tahun.

Karena anak-anak sudah cukup besar dan tidak terlalu butuh perhatian khusus lagi. Ketika ia minta pertimbangan akan bekerja lagi, saya pun menyetujuinya. Saya pikir biar dia punya kegiatan lain selain mengurus rumah dan anak. Namun ternyata bekerja malah membuat muncul masalah baru, karena nampaknya bekerja membuat istri saya lelah sehingga sering uring-uringan di rumah. Ia selalu banyak menceritakan apa yang dilakukannya di kantor dan masalah yng sedang dihadapi. Anehnya, setiap kali saya memberikan solusi, ia malah marah-marah. Saya diamkan saja (maksudnya tidak saya tanggapi, dan saya sambi nonton TV, ee… dia marah juga.

Saking jengkelnya, saya pernah menyarankan ia untuk berhenti kerja, karena nampaknya bekerja malah mendatangkan masalah baru bagi diri istri. Dan ini yang fatal, saya didiamkan seminggu.Bu, apa yang harus saya lakukan? Terus terang saya tidak keberatan dia bekerja. Tindakan saya membantu dia malah dituduh sikap tidak mendukung. Saya hanya berpikir, jika bekerja malah membuat dia sering menemui masalah, ya lebih baik jangan dilakukan saja. Bagaimana menurut Ibu? Terima kasih.  Harnowo -Sidoarjo

Jawaban:

Sdr Harnowo, kesediaan Anda mencari solusi untuk istri yang marah dengan sikap Anda perlu diacungi jempol. Ini sebenarnya adalah salah satu bentuk dukungan positif Anda kepada pasangan yang juga bekerja. Banyak kasus demikian terjadi, tapi seringkali orang tidak berusaha mencari tahu akar masalahnya. Jangan-jangan jika istri Anda tahu ini, ia akan terharu karena yang Anda lakukan kepadanya tidak sekejam yang ia bayangkan…

— Sulit bagi wanita pulang ke rumah melupakan masalah hari itu sementara di sisi lain ia sendiri masih merasa punya tanggung jawab untuk mengurus anak, rumah dan pembantu.

Kebanyakan suami yang istrinya bekerja memahami bahwa beban yang ditanggung wanita pasti berlipat, karena ditambah dengan tekanan pekerjaan di luar rumah. Dan karenanya biasanya juga sudah berusaha untuk membantu mereka (ber-emansipasi dengan kebutuhan wanita). Namun mengapa pemahaman yang sudah ada tidak banyak membantu ketika muncul kasus seperti yang Anda alami? Jawabannya ada pada kurangnya pemahaman bahwa pria (suami) dan wanita (istri) sebenarnya mempunyai kebutuhan dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda. Kenyataannya, suami mengharapkan istri berpikir, bertindak dan merasakan seperti cara mereka. Dan demikian juga sebaliknya.

Padahal dari sononya pria dan wanita sudah jelas berbeda. Sehingga jika masing-masing pasangan bertindak dengan pola yang mereka tahu, maka  konflik akan terjadi.  Satu perbedaan itu antara lain adalah: wanita kebanyakan memberikan atau melakukan semua yang mereka punya / bisa, di semua kesempatan. Naluri untuk mendukung orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh wanita. Sementara pria, mereka hanya memberi jika diminta.

Jadi meskipun di tempat kerja istri Anda melakukan usaha yang sama banyak dengan yang dilakukan kaum pria, ketika pulang ke rumah pun, naluri ini tidak secara otomatis berhenti. Sulit bagi wanita pulang ke rumah melupakan masalah hari itu sementara di sisi lain ia sendiri masih merasa punya tanggung jawab untuk mengurus anak, rumah dan pembantu. Jadi ketika istri menceritakan aktifitas di kantor dan masalahnya (menurut Anda ?), yang bisa Anda tawarkan adalah bantuan untuk mendengarkan ceritanya. Ingat : hanya mendengarkan, dan dengan sedikit tanggapan atau perhatian. Ini sudah lebih dari cukup buat wanita.

Mengapa demikian? Karena bicara adalah penting bagi wanita. Sebaliknya, pria lebih berorientasi pada tindakan. “Kicauan indah” istri  tentang pekerjaan dan masalah yang dihadapi, ditanggapi oleh pria sebagai masalah yang perlu dicarikan solusinya. Karena yang dibutuhkan hanya pinjam telinga, maka di lain kesempatan Anda hanya perlu menanggapi  dengan empati agar istri mendapatkan kesempatan membicarakan perasaannya. Yang demikian ini, sudah cukup membuat wanita bahagia dan memperoleh apa yang paling dibutuhkan, yaitu membangun sisi kewanitaannya.

Bagi pria, rumah adalah tempat melepaskan penat setelah selesai bekerja. Sementara bagi wanita, rumah adalah pusat kegiatan. Sehingga tidak heran jika seringkali wanita sakit hati ketika pasangannya lebih asyik nonton TV atau baca koran dibandingkan mendengarkan dan menanggapi cerita sang istri. Apalagi ketika Anda menyarankan untuk berhenti bekerja. Karena bisa saja sebenarnya tidak ada masalah yang gawat seperti yang Anda bayangkan. Ia hanya perlu didengarkan, meskipun terkadang cerita itu diulang-ulang. Anda juga tidak perlu merasa disalahkan, tapi pahami hal ini hanyalah kebutuhan istri untuk berbagi rasa.

Jadi kuncinya adalah pada kesediaan memahami dan ketrampilan berkomunikasi. Coba cari kemungkinan hal-hal di atas terjadi dalam kasus yang Anda alami, sebelum Anda menghakimi istri tidak becus bekerja. Jika benar demikian, maka Anda sebenarnya punya kesempatan yang besar untuk mendukung karir istri. Kemampuan mendukung istri adalah ketrampilan baru yang disyaratkan bagi pria modern saat ini. Bukankan Anda pasti bangga jika baik istri maupun Anda sukses dalam karir dan rumah tangga. (*)

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.