Pengembangan Karir – Mendukung Suami

Pengembangan Karir –  Mendukung Suami

pengembangan karir mendukung suami

Bu, saya wanita yang bekerja dan mempunyai 2 anak. Suami saya juga bekerja di sebuah perusahaan go public. Karirnya cukup bagus, demikian juga karir saya. Beberapa teman mengatakan kami ini pasangan ideal, tapi sebenarnya tidak semuanya benar. Sebagai wanita bekerja, pulang dari kantor saya tetap saja harus mengurusi segala tetek- bengek urusan rumah. Bukannya saya tidak menerima kodrat saya sebagai wanita yang punya tanggung jawab itu, tapi suami saya sering tidak mau membantu saya dalam menyelesaikan urusan rumah yang tidak pernah habis.

Bagaimana tidak, pulang kantor dia langsung duduk manis di depan TV atau baca novel-novel favoritnya. Sementara saya masih harus menemani anak belajar dan ngecek keperluan sekolah mereka. Selesai itu, saya sudah kecapekan karena bangun pagi sekali untuk mempersiapkan pekerjaan saya sendiri dan ngecek pekerjaan asisten Rumah Tangga. Sementara pagi hari, suami bangunnya ngepas, sehingga ketika berangkat sering terburu-buru. Saya jengkel sekali dengan kecuekan sikapnya terhadap urusan-urusan rumah. Lha wong saya juga bekerja, masih sempat ngurusi semua urusan rumah yang lain. Sementara dia di rumah, hanya ngurusi diri sendiri saja.

Kalau saya minta membantu, sebenarnya dia mau saja. Tapi itu harus sering saya lakukan, agar dia juga turun tangan. Tapi menyebalkan buat saya, karena sudah tahu mau saya seperti itu, tapi kok hanya dilakukan jika diminta. Sehingga sering saya diam saja, tapi dalam hati mendongkol. Bu, apakah memang semua suami seperti itu. Apakah meminta suami terlibat urusan domestik memang sulit? Terima kasih banyak pencerahannya, Bu Andhini, Surabaya

 Jawaban:

Sdri. Andhini, kasus yang dihadapi suami bagaimana agar dapat mendukung istri bekerja telah dimuat pada minggu lalu. Minggu ini, gantian saya membahas bagaimana agar istri dari pasangan yang bekerja dapat memahami suaminya. Memang tidak mudah baik bagi suami maupun istri yang bekerja dalam menghadapi pasangannya. Orang tua kita di jaman dulu sudah sangat jelas pembagiannya perannya, sehingga konflik-konflik demikian relatif tidak banyak terjadi. Perkembangan jaman dan perubahan tuntutan membuat baik pria maupun wanita pasangan bekerja harus mengembangkan ketrampilan baru yang dulu tidak pernah diajarkan orang tua kita.

Memang tidak mudah bagi wanita bekerja seperti Anda untuk menerima semua beban tuntutan. Bayangkan di tempat kerja dituntut bertindak menurut aturan-aturan perilaku maskulin tradisional. Dan ketika kembali ke rumah harus beralih peran menjadi orang yang hangat, suka memberi dan feminin. Tidak heran jika Anda mengharapkan pasangan yang dapat memberikan kehangatan dan kelembutan pada akhir hari.

Ada beberapa hal yang harus Anda pahami tentang perbedaan naluri/sifat bawaan yang ada pada diri pria dan wanita agar Anda tidak merasa terabaikan. Pemahaman adanya perbedaan ini akan membuat Anda merasa lebih nyaman dan dapat mencari jalan untuk mengimbangi atau mendukung pasangan. Pertama, kaum pria dipersiapkan oleh kodratnya untuk memusatkan usahanya pada pekerjaan, kemudian pulang ke rumah dan menerima penghargaan dari pasangannya. Dan ketika dia merasa capek, biasanya akan cenderung melupakan masalahnya, beristirahat dan bersantai. Bahkan ketika menemui masalah pun, pria biasanya akan diam memikirkannya. Yang demikian ini berkebalikan dengan kecenderungan wanita yang tidak bisa selesai memikirkan apa yang terjadi seharian dan justru dengan banyak bicara ia mendapatkan insight untuk memecahkan masalahnya.

Para pemburu di jaman purba akan duduk di atas batu dengan diam-diam mengawasi cakrawala, memandangi api unggun dan ke seberang dataran pada sasaran mereka, sambil mengawasi gerak-geriknya. Proses duduk, menunggu, merancang dan merencanakan ini memungkinkan pria untuk santai dan menyimpan tenaga untuk berburu. Bagi pria modern, dengan nonton TV atau baca novel favorit membuatnya secara naluriah  menemukan batu karang tempat dia duduk dan menatap cakrawala.

Nah, dalam keadaan dia butuh ruang untuk menyendiri, berusahalah untuk menahan kebutuhan Anda berbicara. Dengan sejenak menunda, sama dengan membiarkan suami punya waktu yang dibutuhkannya untuk berganti suasana dari kehidupan kerja ke kehidupan rumah tangga. Dengan demikian, suami akan merasa didukung dan perlahan akan siap memberikan apa yang dibutuhkan istri. Dengan lebih banyak mendapat dukungan semacam ini, bahkan memikirkan pulang ke rumah saja sudah mulai membuat suami menguraikan ketegangan…

Kedua, pria biasanya berorientasi pada tindakan. Karena itu, ia hanya akan bertindak atau menawarkan bantuan jika diminta. Karena alasan ini pula, wanita sering menghakimi pria kurang peka dalam mendukung perasaan orang lain. Jika Anda diam saja dan mendongkol pada suami, suami melihat Anda sedang butuh ruang untuk berpikir seperti apa yang biasanya pria lakukan. Karena itu ia mendiamkan Anda. Sementara Anda merasa diabaikan, suami merasa memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah…

Ketiga, pria punya kecenderungan memusatkan perhatian pada satu hal dan melupakan semua yang lain. Yang demikian ini membuat pria menunda melakukan hal-hal lain yang betul-betul  ingin dikerjakannya, seperti membantu istri. Di sisi lain, seringkali  istri meminta suami melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh diinginkannya tetapi sang suami lupa. Istri merasa suami mengabaikan karena wanita tidak mudah lupa. Kebanyakan wanita sangat berorientasi pada dukungan dan tidak ingin menyakiti orang yang memintanya. Yang terjadi kemudian adalah istri menganggap suami menghindari pekerjaan dengan mengabaikan permintaannya. Karena itu tidak heran jika banyak suami dapat mengingat setiap detil yang dibutuhkan dalam pekerjaannya, tapi kemudian lupa membawa pulang buku titipan istri tak peduli berapa kali istri  mengingatkan.

Jadi Anda tidak sendirian, Sdri. Andhini. Dengan kepekaan dan kesediaan Anda mengembangkan ketrampilan baru memahami sudut pandang suami, saya yakin Anda akan berhasil! (*)

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.