Pengembangan Karir – Mengakali Psikotes

Share Social

pengembangan karir mengakali psikotes

Bu, saya lulusan PT yang belum pernah bekerja. Saya sudah mengikuti lebih dari 10 kali proses rekrutmen penerimaan karyawan dan sekitar 4 kali psikotes. Tapi semuanya belum ada hasilnya. Padahal IPK saya juga tidak terlalu jelek (2.87 dari Universitas swasta yang cukup punya nama). Beberapa teman saya menganjurkan agar saya beli buku-buku panduan psikotes yang  banyak dijual di toko buku. Mereka bilang, hafalkan saja semua soal yang ada disitu. Menurut salah seorang teman saya yang telah berhasil lolos psikotes karena mempelajari buku itu, ia juga melakukan hal yang disarankannya kepada saya. Dia dulu juga begitu, tidak lulus psikotes sampai dengan mempelajari isi buku itu. Nyatanya ia sekarang telah diterima bekerja di sebuah perusahaan furniture.

Bu, apakah benar dengan mempelajari isi buku tersebut saya ditanggung lebih mudah lulus dalam mengikuti proses rekrutmen karyawan? Jika benar demikian, berarti psikotes itu bisa diakali ya Bu… Lalu  buku-buku panduan praktis seperti apa yang sebaiknya saya beli, karena ada juga petunjuk untuk tes menggambar – salah satu tes yang saya sering temui juga dalam psikotes yang pernah saya jalani. Terima kasih banyak, Bu.                Joko, Gresik

Jawaban:

Sdr. Joko, dalam pelaksanaan evaluasi psikologis (pengganti istilah psikotes yang sering digunakan orang awam) digunakan beberapa alat astandar untuk mendapatkan gambaran mengenai aspek-aspek psikologis seseorang. Gambaran aspek psikologis tersebut disesuaikan dengan tujuan pelaksanaan assessment (penilaian). Jadi ada pelaksanaan psikotes dengan tujuan seleksi penerimaan tenaga kerja, promosi jabatan, penempatan, analisa potensi untuk pengembangan karir atau kebutuhan pelatihan.

Hasil dari pelaksanaan evaluasi psikologis seseorang dapat mengungkap beberapa aspek seperti kecerdasan, kepribadian/sikap, potensi kerja, potensi manajerial, minat dan bakat. Dalam pengungkapan evaluasi psikologis yang lebih mendalam, dari aspek kepribadian bisa didapatkan gambaran mengenai kecenderungan menonjolkan diri, keinginan berafiliasi dan pemahaman terhadap orang lain serta keinginan berprestasi. Terkait dengan potensi kerja bisa diperoleh gambaran tentang keinginan mencoba hal-hal baru, kecenderungan memperhatikan detil dan keteraturan.

Adapun dari aspek manajerial, selain potensi kepemimpinan, perencanaan dan pengorganisasian, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, kemampuan mengembangkan tim dan kemampuan mendelegasikan, bisa juga didapatkan analisa yang lebih mendalam terkait dengan kecenderungan mendominasi, keinginan membantu orang lain, keinginan mendengarkan orang lain, keinginan bertindak dengan atau tanpa pertimbangan orang lain serta munculnya rasa bersalah jika suatu hal tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Dalam proses penerimaan calon karyawan, psikotes biasanya juga bukan dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak calon karyawan. Penilaian secara keseluruhan adalah dengan mencocokkan persyaratan / kompetensi yang dibutuhkan oleh suatu jabatan dengan kualifikasi yang dimiliki oleh para pelamar. Penilaian lain adalah melalui wawancara, tes kemampuan bidang kerja, dan juga dengan mempertimbangkan budaya atau nilai-nilai tertentu yang berlaku dalam perusahaan.

Menjawab pertanyaan Anda apakah bisa psikotes diakali. Saya tegaskan, pada prinsipnya tidak dapat. Begini penjelasannya. Metode, alat atau perlengkapan untuk mengungkapkan aspek psikologis selalu standar. Artinya tidak dibuat atau disusun sembarangan karena hasilnya harus reliable atau dapat dipercaya. Jadi apapun alat yang dipakai, hasilnya akan selalu ajeg. Selain itu juga harus valid, artinya mengukur apa yang seharusnya diukur. Hasil tes harus selalu demikian, karena sebelum dipublikasikan dan dipergunakan secara luas harus mengalami serangkaian  uji coba yang panjang dan akurat.

Satu alat tes yang berasal dari luar negeri, harus mengalami proses penyelarasan dengan situasi sosial budaya  Indonesia. Tes itu akan diuji dulu di berbagai daerah, terhadap berbagai tingkatan pendidikan dan sosial, sebelum secara resmi dipakai di Indonesia. Selanjutnya dilakukan juga penormaan ulang agar lebih sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Prinsupnya suatu alat tes psikologi harus culture free (bebas budaya), dimana pengerjaan jawaban tidak terpengaruh oleh pengetahuan, pemahaman atau kondisi spesifik satu budaya tertentu. Sebaiknya  berdasarkan logika yang secara universal pasti sama.

Pengedaran dan penggunaan alat-alat evaluasi psikologi adalah dalam ruang lingkup terbatas oleh seorang yang berkompeten dan mempunyai ijin praktek psikologi. Karena itu tidak mungkin beredar bebas. Adapun “buku pintar” tentang psikotes yang banyak dijual di toko buku  adalah buku popular terjemahan bebas yang lebih banyak mengasah kemampuan otak. Bentuknya memang menyerupai alat tes psikologi untuk mengungkap kecerdasan. Tetapi pasti tidak mengalami proses pengujian validitas dan reliabilitas seperti yang saya jelaskan di atas. Anda boleh menggunakannya untuk mengasah kemampuan, tetapi jangan dijadikan sebagai “buku sakti”.

Orang memang banyak menyalahartikan seperti teman Anda yang mengatakan setelah ikut berkali-kali tes baru bisa lulus seleksi. Padahal bisa jadi ia tidak lulus dalam seleksi-seleksi sebelumnya karena tidak memenuhi persyaratan jabatan yang dilamar. Jika ia seorang yang menyukai pekerjaan lapangan dan suka berhubungan dengan orang banyak, pasti tidak akan sesuai untuk jabatan yang banyak membutuhkan kemampuan konsentrasi, kemampuan mengerjakan secara detil, apalagi pekerjaan yang membutuhkan banyak kemampuan administratif. Ketika persyaratan jabatan yang dilamar sesuai dengna kualifikasi yang dimiliki oleh teman Anda, pasti saja ia diterima. Karena perusahaan pasti akan berpikir ulang untuk menerima karyawan yang sejak awal bisa diprediksi tidak akan optimal dalam pekerjaannya. Perusahaan pasti akan memilih karyawan yang bisa memberikan kontribusi lebih banyak daripada karyawan yang kontribusinya rata-rata.

Jadi bagaimana menyiasatinya adalah dengan melamar jabatan yang sesuai dengan diri Anda, mempersiapkan diri baik-baik sebelum pelaksanaan sehingga fit dan ketika pelaksanaan kerjakan dengan konsentrasi, semampunya, dan sesuai dengan apa yang ada pada diri Anda. Kuncinya yakin diri, dan selamat berjuang dalam proses seleksi berikutnya!