Pengembangan Karir – Mengatasi Gap Generasi

Pengembangan Karir – Mengatasi Gap Generasi

Share Social

pengembangan karir gap generasi

Saya seorang Kepala Divisi dari sebuah perusahaan keramik yang  punya nama besar di Indonesia dan dengan manajemen yang bisa dikatakan cukup professional.. Saya sendiri bekerja disini sudah cukup lama, sekitar 20 tahun.  Saya mengalami pengalaman dari generasi ke generasi dalam hal menangani dan mendidik bawahan. Banyak anak didik (dalam hal ini staf-staf) yang saya tangani secara langsung, mereka benar-benar “jadi” dan memang bagus dalam hal tanggung jawab dan loyalitas terhadap pekerjaannya.

Namun yang saya dapati belakangan ini, generasi di bawah saya (dalam hal ini sebagian besar ada dalam jajaran Kabag), sulit untuk bisa mengembangkan bawahannya seperti dulu yang pernah saya lakukan. Dan kejadian demikian seringkali terjadi dalam beberapa tahun terkhir. Saya mencoba melakukan evaluasi. Dari pengamatan saya, memang tidak sepenuhnya kesalahan ada pada mereka (para Kabag itu). Namun para generasi muda itu menurut saya memang kurang kuat mental, tidak tahan banting dan manja.

Kebanyakan dari mereka sangat pilih-pilih dalam bekerja, bekerja hanya mau tahu bagiannya saja, ditegur keras sedikit sudah mutung, diminta kerja dengan effort lebih sudah berhitung untung-ruginya. Banyak hal yang menurut saya, memang membuat situasi jadi lebih sulit untuk bisa dikader seperti jamannya saya mengkader staf-staf di bawah saya dulu.

Saya jadi berpikir, apakah saya sudah terlalu tua untuk bisa mengikuti mereka. Apakah memang perlu metode baru untuk menanganinya dan saya memang tidak tahu (maklum, saya selama 20 tahun tahun terakhir tidak pindah ke perusahaan manapun sehingga mungkin ketinggalan informasi) atau kita-kita yang sudah termasuk generasi tua ini yang harus berubah? Atau mungkin Ibu bisa memberikan gambaran tentang yang terjadi di luar?  Terimakasih. Pujiono, Surabaya

Jawaban:

Bapak Pujiono, senioritas Bapak dalam mengembangkan dan mendidik staf patut dijadikan contoh bagi generasi-generasi yang lebih muda. Demikian juga kepedulian dan perhatian Bapak terhadap generasi-generasi muda sekarang yang (baru) masuk dalam angkatan kerja juga merupakan salah satu wujud dari tanggung jawab dan loyalitas terhadap pekerjaan seperti yang Bapak sampaikan di atas. Bukan Bapak yang ketinggalan jaman tetapi yang terjadi adalah kesenjangan generasi.

Dalam suatu organisasi yang sudah cukup lama berdiri, seperti di perusahaan Bapak, masalah perbedaan generasi akan lebih sering muncul. Karena masing-masing generasi punya nilai-nilai yang berbeda. Kecenderungan gaya hidup dan nilai soial yang berbeda mempengaruhi juga pandangan mereka dalam hal kerja. Jadi jawabannya sebenarnya ada disini.

Secara garis besar, dalam angkatan kerja sekarang ada 5 generasi yang berbaur. Sebutan untuk masing-masing mereka adalah Pre-Boomer (lahir tahun 1934-1945), Boomer (lahir tahun 1946-1959), Cuspers (lahir tahun 1960-1968), Buster (lahir tahun 1969-1978), Netsters (lahir tahun 1979-1984 ke atas). Untuk itu baiklah saya akan mencoba menunjukkan gambaran tentang karakteristik dari masing-masing generasi itu. Dengan memahami karakteristik dan hal hal-hal yang dibutuhkan oleh masing-masing generasi, saya harapkan Bapak akan bisa memberikan atau merancang treatment yang tepat untuk masing-masing kelompok pekerja tersebut.

Karakteristik umum dan orientasi/pandangan terhadap pekerjaan

Pre-Boomer Boomer Cuspers

Buster

Netsters
Etos kerja tradisional Uang/Etos kerja Uang/Prinsip

 

Prinsip/Kepuasan Prinsip/kepuasan
Kerja adalah hal utama Kerja adalah hal utama Percampuran antara keduanya Lifestyle adalah hal utama Lifestyle adalah hal utama
Loyal kepada perusahaan Loyal kepada perusahaan Percampuran antara keduanya Loyal kepada skill /keahlian Loyal kepada skill /keahlian
Mandiri tapi konvensional Sangat perhatian thd apa yang dipikirkan orang lain Percampuran antara keduanya Kurang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain Hanya sedikit perhatian thd apa yang dipikirkan orang lain
Mengutamakan kerjasama Menginginkan orang lain bekerja dgn mereka Menginginkan orang lain bekerja dgn mereka Lebih suka bekerja sendirian Menyukai kelompok kecil
Kekompakan tim sgt penting Kekompakan tim Percampuran antara keduanya Yang utama: individu Yang utama: individu

Adapun hal-hal yang menjadi motivasi masing-masing generasi adalah:

Pre-Boomer Boomer Cuspers

Buster

Netsters
Uang Uang yang lebih Bekerja dengan baik Kerja, juga waktu luang Waktu luang
Tanggungjawab Kenaikan pangkat Memenuhi tujuan organisai Memenuhi tujuan pribadi Training ketrampilan yg mdh diaplikasikan
Penghargaan dari masyarakat Penghargaan dari masyarakat Penghargaan dari atasan Penghargaan dari atasan Mencapai tujuan pribadi
Prestasi Penghargaan dari rekan Bonus Training ketrampilan Stock option
Kontrol Kontrol Percampuran antara keduanya Mentoring Menyiapkan untuk bekerja mandiri

Dalam cara berkomunikasi juga berbeda antara generasi lebih tua (yang lahir tahun 1935-1959) dengan generasi yang lebih muda (lahir tahun 1960-1981). Generasi pertama akan mengatakan “Kita adalah tim yang solid.” Sementara generasi selanjutnya akan cenderung mengatakan “Saya mampu bekerja dengan baik sendirian!”

Generasi pertama menyukai proses, berbicara tentang ide dan permasalahan, lebih lunak meminta seseorang melakukan sesuatu dan dengan pendahuluan yang panjang: “Saya akan senang jika kamu bersedia… “ Sementara generasi yang lebih muda  akan mengatakan: “Just do it! Atau “ Katakan saja apa yang kamu minta, dan saya akan melakukannya!”

Generasi pertama sangat menghargai partisipasi dan konsensus. Penghargaan adalah sangat berarti, berupa penerimaan, popularitas atau identitas kelompok. Sementara buat generasi yang lebih muda penghargaan kurang berarti dan tidak dibutuhkan. Mereka berprinsip: “Saya tahu macam pekerjaan apa yang saya lakukan. Jika bos menghargai kerja saya, itu bagus, tapi itu bukan hal utama yang saya harapkan..” (*)