Pengembangan Karir – Menghadapi Atasan yang Pemarah

Pengembangan Karir – Menghadapi Atasan yang  Pemarah

pengembangan karir Menghadapi Atasan Pemarah

Saya karyawan baru di perusahaan mebel, di bagian QC. Plant Manager saya ternyata seorang yang keras, perfeksionis dan tidak terbantahkan. Jika marah atau menemui kesalahan, kemarahan seringkali tidak hanya di bagian di mana ditemukan kesalahan itu, tapi juga siapa saja yang dekat dengan lokasi tersebut. Informasi yang saya dapat, ia masih ada hubungan family dengan pemilik perusahaan. Mungkin karena posisinya relatif kuat, ia berbuat demikian.

Teman – teman lain dalam satu bagian takut dan seringkali menjadikan guyonan jika ada teman lain yang sedang sial, kena marah. Bahkan sebutan ruang kerjanya diplesetkan menjadi “kandang singa”. Meskipun saya belum pernah kena “semprot”, tapi saya tidak mau ketakutan seperti mereka yang lain. Mohon tips dari Ibu bagaimana menghadapi atasan dengan karakter demikian. Sukses selalu untuk Ibu. Yudi, Probolinggo

Jawaban:

Saudara Yudi, kondisi yang Anda hadapi terjadi juga terhadap banyak orang di tempat kerja lain. Dan yang membedakan dengan orang lain adalah bahwa Anda tidak merasa kecil hati dan pasrah menghadapinya, dan sebaliknya berusaha mencari solusi terbaik.

Anda nampaknya cukup memahami, dalam banyak hal orang dengan karakter demikian biasanya to the point, dominan, agresif dan karenanya terkesan selalu mau menang sendiri. Sulit untuk mengubah karakter yang demikian, apalagi jika usianya sudah cukup matang. Yang bisa dilakukan adalah menyiasati agar kita bisa beradaptasi dan diterima ketika harus menggolkan suatu rencana.

Yang terpenting adalah, jangan kacaukan antara respek/hormat dengan rasa takut. Seorang yang powerful tidak punya banyak waktu untuk mengurusi seorang pesakitan yang ngeri. Meskipun juga  (kemungkinan) di masa lalu pernah ada masalah dengan dia. Lebih baik lupakan dan jangan biarkan mempengaruhi kesan sekarang ketika berbicara dengannya.

Karena itu, jika sekali waktu harus dan perlu berhubungan dengan beliau, jangan terpengaruh oleh kesan rekan-rekan kerja yang lain yang pernah kesemprot. Anda boleh waspada, tapi jangan menjadikan kecil hati. Bahasa tubuh orang ketakutan akan bisa terbaca dan mempengaruhi reaksi lawan bicara. Dari situ, Anda sudah kalah sebelum bertanding.

Yang selanjutnya perlu dan seorang dengan power sangat tinggi biasanya hanya ingin mendengar headline. Karena itu jika akan menghadap, siapkan segala sesuatunya secara baik dan cari dua atau tiga kalimat kunci tentang hal yang akan disampaikan. Jelaskan langsung poin-poinnya, jangan bertele-tele karena ia hanya butuh informasi akurat. Ia menginginkan apapun yang dikerjakan, harus nyata dan jelas tujuannya. Ketika beliau sedang menyampaikan argumen atau analisanya (biasanya tetap juga dengan nada menghakimi), jangan menantang secara frontal. Dan sebaliknya, juga jangan defensif. Yang dimaksud defensif adalah berusaha membenarkan pendapat kita tetapi dengan menggunakan pembenar-pembenar yang dicari-cari, sehingga terkesan seperti debat kusir.

Terima dulu argumennya, sampaikan alasan Anda secara runtut, sistematis dan faktual. Perhatikan reaksinya, jika postif dan  memungkinkan, baru sampaikan pandangan membangun atau analisa kritis. Jangan beranggapan orang dengan karakter demikian tidak membutuhkan masukan dari hal-hal yang disampaikan, meskipun terkadang hanya untuk menguji seberapa benar hal yang dipikirkan atau kemungkinan mendapat reaksi negatif dari lingkungannya.

Dan yang harus Anda perhatikan ketika ide Anda mendapat reaksi negatif adalah stop bicara meskipun sulit. Tunggu sampai lawan bicara selesai. Anda harus lebih aktif mendengarkan. Tidak ada cara lain, Anda harus menghadapi dengan empati. Selanjutnya analisa  kembali apa yang Anda dengar. Lalu jawab dengan tenang dan sensitif sehingga memudahkan Anda mengklarifikasikan tujuan. Selama Anda dapat membawakan diri dengan tepat dan mencoba menanggapi dengan empati, saya yakin Anda akan dapat mengatasi dengan baik. Semoga sukses selalu menyertai usaha Anda.(*)

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , . Bookmark the permalink.