Pengembangan Karir – Menghadapi “Bigos” di Kantor

Pengembangan Karir – Menghadapi “Bigos” di Kantor

pengembangan karir Menghadapi gosip di Kantor

Saya baru dirotasi oleh perusahaan dan ditugaskan di kota lain. Yang sangat mengganggu saya, teman–teman saya di sini suka menggosip. Saya sendiri wanita dan seperti nature-nya wanita — suka bergosip. Tapi yang sekarang ini benar-benar keterlaluan, ada satu bigos (biang gosip) yang sangat keterlaluan dan bahkan yang terakhir ini sampai mengganggu keharmonisan rumah tangga seorang teman. Saya merasa terpanggil supaya kejadian serupa tidak terulang lagi. Saran Ibu, apa yang harus saya lakukan? Rara Madiun

Jawaban:

Syukurlah Anda sangat menyadari dampak negatif dari sebuah gosip. Karena tidak semua orang bisa mempunyai pendirian yang demikian. Gosip sendiri beredar dari suatu informasi yang tidak jelas yang kemudian seringkali berkembang dari mulut ke mulut. Wanita sering dituding jadi biang gosip, karena wanita seringkali membutuhkan dukungan perasaan, senang membincangkan detil masalah, dan perasaan untuk mendapatkan peneguhan dari lingkungannya.

Seperti yang Anda alami, gosip sendiri lebih banyak berdampak negatif daripada positif. Kemampuan seseorang dalam menanggapi informasi mempengaruhi persepsi terhadap informasi tersebut meskipun terhadap informasi yang sama. Akibatnya, ketika disampaikan kepada pihak lain, isi dan makna bisa berubah. Buntut-buntutnya informasi makin berkembang jauh dari informasi awal / asli.

Sifat dasar manusia untuk menjadi pusat perhatian adalah penyebab utama seseorang menjadi bigos. Coba amati teman Anda si bigos, bisa jadi ia berbuat demikian karena  butuh aktualisasi diri. Dan biasanya karena ia tidak benar-benar unggul dalam pekerjaan atau kualitas pribadi yang lain. Akhirnya cara menarik perhatian yang mungkin dilakukannya dengan cara murahan, seperti “menjual” gosip. Mestinya menghadapi orang yang demikian kita harus kasihan, karena secara tidak sadar ia mengobral citra dirinya dengan melakukan sesuatu yang negatif.

Selain itu, manusia cenderung mudah melihat kesalahan dan senang menertawakan penderitaan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Gosip hampir selalu berisi informasi “miring” yang dibumbui secara overdosis. Jangan heran jika dampaknya sampai merusak keharmonisan hubungan. Sayangnya tidak banyak orang yang menyadari betapa berbahayanya racun gosip itu.

Hal lain yang memicu gosip adalah kecenderungan orang untuk mencari hiburan di luar rutinitas formal. Tersedianya waktu luang atau tiadanya aktivitas, membuat informasi yang dianggap hiburan ini menjadi aktivitas yang menarik dan tanpa disadari menjadi lingkaran gosip.

Yang bisa Anda lakukan jika teman Anda mulai berceloteh adalah jangan menambahkan informasi yang disampaikan. Dengan demikian, informasi itu akan berhenti sampai di situ. Jangan tergoda untuk menanggapi obrolannya. Bertindaklah hanya sebagai pendengar. Orang yang cari perhatian, jika diperlakukan demikian biasanya akan berhenti bicara dan mencari korban/sasaran lain. Menyibukkan diri dalam pekerjaan atau meninggalkannya adalah cara menolak dan menghindari sumber gosip. Jika ia tidak tahu diri, katakan Anda sedang sibuk dan mengejar deadline.

Selanjutnya semua informasi yang dibicarakan si bigos, selalu cek dari sumber pertama. Sehingga saat gosip itu beredar lagi, Anda bisa membantu meluruskan. Dengan demikian secara tidak langsung Anda berusaha menunjukkan kepada orang lain bahwa informasi yang disampaikan tidak benar.

Sejalan dengan waktu, jika kejadian demikian sering berulang, percayalah teman-teman Anda pasti akan bisa menilai informasi “sampah” yang disampaikan dan akan pelan-pelan meninggalkannya. Salam.(*)

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.