Pengembangan Karir – Menghadapi Si ’Workalkoholic’

Pengembangan Karir – Menghadapi  Si ’Workalkoholic’

pengembangan karir menghadapi si WORKAHOLIC

Saya punya teman dekat. Menurut penilaian saya, ia workaholic. Semua energi dan pikirannya tercurah ke pekerjaannya. Mungkin juga saya jealous, karena hari libur yang mestinya dia gunakan untuk saya pun sering dilewatkan dengan pembicaraan seputar pekerjannya. Sudah saya ungkapkan keberatan saya ini kepadanya, tapi jawabannya selalu untuk masa depan. Padahal saya tidak menuntut lebih dan menurut saya posisinya dalam perusahaan saat ini sudah cukup mapan. Apakah dampak positif dan negatif workaholic? Bagaimana menghentikannya? Nana, Sidoarjo

Jawaban:

Sdr. Nana, orang awam sering sulit mengetahui seorang pekerja keras, apakah workaholic atau bukan. Untuk membedakannya, diperlukan pengamatan dan observasi mendalam. Saya sendiri tidak bisa menyimpulkan apakah teman dekat Anda workaholic atau tidak. Saya berharap tidak demikian.

“The workplace does not create workaholism, the same way a bar does not create alcoholism, but it does enable it”, kata seorang ahli. Jadi sebenarnya bekerja keras sah-sah saja hukumnya.

Seseorang dikatakan workaholic adalah jika orientasi aktivitas sehari-hari sebagian besar diarahkan pada pekerjaan. Orang tersebut merasa mempunyai keharusan untuk tetap sibuk dan mengubur diri dalam tumpukan kertas-kertas/pekerjaannya. Orang tersebut kecanduan kerja dan yang dilakukannya merupakan dorongan yang sulit dikendalikan. Karena itu yang dilakukan biasanya adalah pekerjaan rutin atau yang memakan waktu.

Dalam bekerja, mereka biasanya menurutkan kata hati dan melakukan pembatasan terhadap aktivitas lain selain kerja. Dan dengan berperilaku demikian jangan berasumsi itu akan selalu berdampak positif pada pekerjaan. Perasaan puas memang mungkin, karena mereka berusaha mengendalikan semua proses. Namun yang sebaliknya, aktivitas yang dilakukan bukanlah suatu kegiatan produktif yang direncanakan secara sistematis, karena itu dia akan sulit melakukan inovasi atau lompatan ke depan.

Mereka seringkali sulit mendelegasikan, sehingga dampaknya adalah waktu kerja jadi panjang, selalu membawa pekerjaan kemana pun pergi (meski dalam situasi yang memungkinkan bersantai). Akibat selanjutnya stres yang tinggi bagi orang-orang di sekitar mereka dan kesehatan mental bagi pelakunya.

Coba perhatikan beberapa hal di bawah ini. Jika teman Anda mengalami lebih dari lima point berikut, ada kemungkinan ia seorang workaholic. 1. Jika bangun pagi-pagi, ia tak menghiraukan apakah terlambat tidur. 2. Jika makan siang sendiri, sambil membaca atau bekerja sambil makan. 3. Ia menemui kesulitan jika tidak mengerjakan apa-apa. 4. Ia tetap bekerja pada akhir minggu dan hari libur. 5. Ia justru menemui kesulitan ketika akan ambil cuti. 6. Takut kehilangan pekerjaan jika tidak kerja keras 7. Dapat bekerja di mana dan kapan saja. 8. Biasanya penuh semangat dan daya saing.

Workaholic berbeda dengan hard worker. Hard worker biasanya menyukai apa yang dikerjakan dan memperoleh kepuasan sebagai hasilnya. Mereka mempunyai energi dan semangat yang tinggi untuk hidup. Selain itu, mereka mengumpulkan prestasi yang banyak dengan berbagai aktivitas professional dan pribadi. Sehingga dapat dikatakan workaholic yang sehat (healthy workaholic).

Dampak negatif bagi seorang workaholic, seringkali dirasakan oleh orang-orang dalam tim kerjanya. Mereka seringkali mengambil tanggungjawab pekerjaan secara penuh dan bersedia bekerja ekstra karena menganggap orang lain tidak mampu melakukannya. Mereka menuntut orang lain bisa perfect dan bekerja keras seperti yang mereka lakukan. Karenanya cenderung menjadi one man show dan tidak toleran. Buat mereka pekerjaan adalah prioritas utama!

Dampak selanjutnya adalah terhadap keluarga, teman, dan lingkungan sosial di luar tempat kerja. Mereka seolah-olah tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi. Mereka tidak menyadari jika perilaku yang dilakukan tidak sehat karena membuat kehidupan tidak seimbang. Anak-anak dan pasangan hidup dapat menjadi korban. Bahkan tingkat perceraian lebih tinggi ditemui pada pasangan workaholic.

Jika hal ini dilakukan dalam jangka panjang, dampak selanjutnya adalah terhadap kesehatannya. Sebagai dampak dari stres kerja yang tinggi, maka gangguan yang potensial muncul adalah kecemasan, depresi, kelelahan mental, tekanan darah tinggi, dan lemahnya sistem kekebalan tubuh.

Jika ternyata kecenderungan teman dekat Anda mengarah ke sana, untuk mengembalikan ke dalam aktivitas sehat, kuncinya adalah mencari sumber masalah mengapa ia bertindak demikian. Cari tahu kemungkinan ia mendapat “ancaman” psikologis terhadap pekerjaan atau harga dirinya sehingga ia kemudian terdorong untuk menunjukkan diri dan kemampuan dengan bekerja keras.

Seorang yang perfect sering bisa juga menjadi workaholic karena menginginkan hasil yang prima. Seorang yang terbiasa bekerja dalam proyek dan target waktu, kecenderungannya akan selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. Trauma kegagalan finansial di masa lalu bisa juga jadi penyebab, sehingga terobsesi untuk bekerja keras memenuhi keamanan finansial. Mintalah bantuan dari ahlinya jika Anda menemui kesulitan.

Peran Anda selanjutnya adalah menyadarkan perlunya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan professional. Kebahagiaan dan kepuasan batin adalah hal yang tidak dapat dibeli dengan uang banyak sekalipun. Alangkah nikmatnya jika di sela-sela kesibukan kerja, kita masih punya waktu untuk menyenangkan diri dan punya kebersamaan dengan orang-orang dekat. Saya yakin dukungan dan kepercayaan Anda akan banyak membantu.(*)

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.