Pengembangan Karir – Pekerjaan Bagi Yang Berjilbab

Share Social

Pengembangan Karir – Pekerjaan Bagi Yang Berjilbab

pengembangan karir pekerjaan bagi yang berjilbab

Bu, saya baru saja lulus dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri jurusan Ilmu Komunikasi dengan IPK 3,01. Saya seorang wanita yang berjilbab. Semasa saya kuliah juga aktif di kegiatan kampus dan menjadi panitia dari berbagai acara kampus. Selama menjalani kegiatan saya tersebut, saya juga tidak pernah mengalami hambatan gara-gara jilbab yang saya kenakan.

Tetapi saya punya cerita buruk beberapa saat yang lalu. Setelah ujian skripsi selesai, saya pernah melamar kerja di sebuah perusahaan jasa sebagai Customer Service. Saya menjalani serangkaian tes seleksi dan juga wawancara. Kelihatannya wawancara dilakukan oleh Managernya.  Di akhir sesi, saya ditanya apakah bersedia melepas jilbab seandainya diterima bekerja. Dengan terus terang pula saya sampaikan bahwa itu tidak mungkin.  Setelah proses selesai, Bu…. Sampai sekarang ini saya tidak pernah dihubungi lagi oleh perusahaan tersebut tentang kelanjutan dari lamaran saya.  Saya juga pernah mendengar bahwa beberapa perusahaan tertentu menolak karyawan yang berjilbab.

Sejak itu saya ragu-ragu takut melamar kerja. Benarkah kondisinya demikian dalam dunia kerja? Jika demikian dengan kondisi saya, bidang-bidang apa yang mungkin saya masuki? Terima kasih atas jawabannya.                                                                       Afifah, Sidoarjo

Jawaban:

Dunia kerja saat sekarang makin terbuka. Demikian juga ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang ketenagakerjaan. Dalam praktek bisnis yang dijalankan, perusahaan juga harus menerapkan EEO (Equal Employment Opportunity) . Demikian juga dalam proses seleksi, dimana seleksi calon karyawan harus memberikan kesempatan yang sama kepada semua pelamar. Pengertian ini termasuk juga menghilangkan persyaratan-persyaratan jabatan yang tidak terkait langsung dengan persyaratan yang dibutuhkan bagi pekerjaan tersebut.

Seperti contoh yang sering kita lihat dalam iklan lowongan yang berbunyi: lulusan Perguruan Tinggi Negeri. Sebenarnya tidak ada jaminan dan kaitan langsung antara lulusan PT tertentu dengan kinerja karyawan. Persyaratan dalam iklan tersebut justru membatasi jumlah pelamar potensial yang masuk. Karena banyak juga pelamar dari Perguruan Tinggi biasa-biasa yang punya etos kerja bagus dan mereka benar-benar harus berjuang selesai kuliah dengan cepat karena biaya yang mahal.

Kembali pada kasus yang Anda alami, dimana melamar untuk posisi Customer Service. Kembali pada tugas utama seorang CS dimana tugasnya adalah menerima dan  memberikan pelayanan kepada pelanggan. Pelanggan bisa berasal dari berbagai kalangan dan juga jika perusahaan berbisnis dengan luar negeri, maka CS akan berhubungan dengan orang berbagai negara. Seorang CS harus dapat mewakili citra perusahaan tempat bekerja.  Karena itu juga sebagai wakil perusahaan Anda juga harus dapat menjalankan etika (pergaulan) bisnis dengan tamu-tamu perusahaan. Jadi selama Anda dapat menjalankan fungsi tersebut dengan baik, mestinya tidak ada alasan untuk menolak Anda.

Kecuali jika selama proses seleksi berlangsung, dari pihak perusahaan menangkap bahwa Anda keberatan mengikuti etika pergaulan secara umum, seperti (maaf) menolak berjabat tangan atau menatap lawan bicara. Padahal hal ini adalah perwujudan penerimaan dan penghargaan kepada lawan bicara, yang notabene adalah tamu-tamu perusahaan.  Jika Anda berhalangan dalam menjalankan fungsi utama tersebut, maka mestinya perusahaan menanyakan kesediaan Anda untuk menjalankan fungsi pekerjaan tersebut dan bukan dengan melepaskan jilbabnya. Apabila terlontar dari pewawancara tentang kesediaan Anda untuk  melepas jilbab, mungkin saja hal itu tidak dimaksudkan secara eksplisit bahwa Anda harus melepaskan jilbab. Bisa saja hal itu lebih mencerminkan keraguan pewawancara mengenai apakah Anda bisa memenuhi tuntutan kerja yang menuntut kemampuan berinteraksi dengan orang lain secara terbuka sementara kesan yang ditangkap adalah tanda-tanda bahwa Anda cenderung  menampilkan diri yang sesuai dengan pakaian yang Anda tampilkan.

Oleh karena itu menurut saya patut Anda renungkan mengenai pengalaman kegagalan dalam proses seleksi terdahulu. Apakah pada saat itu Anda belum siap menampilkan diri di dunia kerja sehingga gagal dalam proses tersebut  ataukah karena diskriminasi?

Dari pengamatan saya, akhir-akhir ini jumlah karyawan yang berjilbab makin banyak. Dan mereka juga berkiprah di banyak bidang, mulai dari Perbankan, Jurnalistik, Marketing, Public Service dan lain-lain.  Dengan pakaian yang menutupi aurat, mereka juga bisa tetap bisa tampil menarik, modis dan gesit. Ini sebenarnya juga sebagai salah satu indikator bahwa jumlah perusahaan yang menerapkan EEO juga makin meluas.  Perusahaan-perusahaan tersebut tidak menerapkan pembatasan terhadap calon karyawannya, dengan alasan karyawatinya berjilbab. Yang menjadi fokus utama perusahaan adalah mendapatkan calon karyawan yang kompeten sehingga bisa membantu mereka bersaing di pasar global.

Pendapat saya, teruslah punya keyakinan bahwa selama Anda memiliki dan mengasah kompetensi pribadi, maka perusahaan akan melihat hal itu sebagai nilai tambah dan tidak akan mempermasalahkan atribut-atribut yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan yang akan Anda tekuni. Jika Anda sudah ragu pada saat melangkah, maka yang nampak menonjol dimata pengusaha adalah atribut Anda tersebut. Agar Anda merasa nyaman dalam bekerja, bekerjalah di tempat dimana Anda dapat diterima apa adanya. Kondisi demikian akan memungkinkan Anda untuk berkembang dengan potensi yang dimiliki karena dihargai. (*)