Pengembangan Karir – Produktifitas Tinggi Tapi Bermasalah

Pengembangan Karir – Produktifitas Tinggi Tapi Bermasalah

Share Social

pengembangan karir karyawan produktif tapi bermasalahBu, saya seorang Supervisor di Departemen Pembelian. Bawahan saya total empat orang. Mereka punya pembawaan dan keunikan  masing-masing. Karena itu saya juga harus menyesuaikan dengan gaya mereka. Saat sekarang, salah seorang staf saya sempat membuat kepala saya pusing karena bingung bagaimana harus menghadapinya. Ia seorang yang rajin dan punya produktifitas tinggi tinggi ketika bekerja. Cara kerjanya efisien, sangat concern, dan punya konsentrasi yang bagus dalam setiap tugas yang diberikan. Namun ada kondisi lain yang sedikit mengganggu. Ia seringkali datang terlambat dan    dalam satu bulan, rata-rata tidak masuk kerja selama dua hari.

Kondisi yang demikian tentunya membuat sebagian tanggung jawab kerja yang harus dia lakukan, dikerjakan oleh orang lain. Sehingga mau tidak mau beberapa pekerjaan jadi keteteran. Saya pernah menanyakan mengapa ia sering terlambat  dan tidak masuk kerja. Ia bercerita salah satu adiknya sedang sakit dan ia harus membantu merawat dan menemani pengobatan. Belakangan ia malah jadi bahan pembicaraan teman-teman kerjanya dan beberapa dari mereka mengeluhkannya kepada saya karena beberapa tugas dia,  saya minta orang lain yang mengerjakan.

Saya harus berbuat apa, Bu? Saya bermaksud menindak dia, tapi takut dia malah mengundurkan diri. Padahal departemen saya butuh orang yang seperti dia. Langkah terbaik apa yang mesti saya lakukan? Arif Afandi, Sepanjang-Sidoarjo 

Jawaban:

            Sdr. Arif, kesadaran Anda untuk menangani bawahan sesuai pembawaan masing-masing patut diacungi jempol. Namun jangan menangkap pesan ini secara parsial. Pemahaman tentang hal itu seharusnya tidak saja yang terkait dengan dengan pembawaan atau sifat tetapi termasuk juga dalam menghadapi kejadian-kejadian di luar kehendak yang mengandung konflik maupun kontradiksi. Seperti kasus bawahan Anda, dimana satu sisi punya kelebihan atau hal positif, tetapi di sisi lain membuat situasi tidak kondusif bagi yang lain.

Dalam kondisi demikian sebenarnya kepemimpinan Anda sedang diuji. Dalam rangka mencapai tujuan kelompok, “Model kebutuhan kepemimpinan tiga lingkaran” (John Adair) menyatakan bahwa pemimpin harus bisa mengakomodasi kebutuhan tugas, kebutuhan kelompok dan kebutuhan individual. Tindakan atau keputusan yang diambil dalam satu bidang/aspek, akan mempengaruhi aspek yang lain. Dan jika ada salah satu kebutuhan yang diabaikan, maka kebutuhan lain akan menderita dan tugas seorang pemimpin akan kurang berfungsi.

Untuk itulah, maka Anda tidak hanya dituntut untuk berorientasi terhadap tujuan departemen, tapi juga harus melakukan usaha terbaik untuk pemenuhan kebutuhan kelompok selain kebutuhan masing-masing anggotanya. Untuk itulah Anda tidak perlu ragu menegur staf Anda yang bermasalah tersebut. Cara yang Anda lakukan tidak perlu terlalu vulgar, awali dengan niat ikut membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi dan kebutuhan menjaga keutuhan kelompok.

Cari tahu seberapa jauh keterlibatannya sebagai kakak yang harus mendampingi pengobatan adiknya. Panggil untuk menghadap Anda dengan tetap menunjukkan kepercayaan, penghargaan, kehangatan dan ketegasan. Jelaskan bahwa Anda memahami kondisi/situasi  yang dia alami. Selain itu sadarkan juga bahwa selain punya tanggung jawab terhadap keluarganya, ia juga punya tanggung jawab di tempat kerja yang tidak dapat ditinggalkan.

Tunjukkan dampak ketidakhadirannya terhadap target penyelesaian tugas, pembagian dan pengaturan tugas yang harus Anda lakukan kepada staf lain. Anda sendiri juga tidak mengharapkan tim yang telah terbina ini rusak karena tindakan satu dua orang saja. Dan dampak yang mungkin tidak disadari oleh staf tersebut., adalah kehancuran reputasinya dimata teman-teman yang lain.

Jangan lupa untuk menyampaikan hal positif yang dimiliki dan selama ini menjadi penilaian baik bagi dirinya. Cara kerjanya bisa menjadi contoh bagi staf yang lain dalam kondisi kerja normal. Namun hal ini menjadi tidak optimal karena kondisi yang tidak dia kehendaki.

Berikan bantuan atau alternatif pemecahan. Yang harus diingat, Anda harus berempati dengan kesulitan yang dihadapi, hindari simpati. Simpati akan membuat Anda sulit untuk bersikap objektif. Karena itu, pemecahan yang Anda usulkan harus selaras dengan peraturan perusahaan. Sebagai atasan, atas nama perusahaan Anda harus bisa menjadi wakil dari manajemen.

Jika ternyata penyelesaian itu membutuhkan sesuatu di luar wewenang Anda, jika perlu diskusikan dengan atasan agar tidak menjadi preseden buruk bagi staf yang lain, seperti misalnya saran untuk ambil cuti tanpa gaji dalam batas yang diperbolehkan perusahaan. Atau jika waktunya tidak terbatas, tawarkan untuk menyelesaikan tanggung jawab sebagai anggota keluarga lebih dulu, dengan mengundurkan diri. Dengan mengingat prestasi kerjanya dalam kondisi normal, perusahaan tentu akan mempertimbangkan jika suatu saat nanti ia akan kembali bekerja.

OK, Saudara Arif, dengan langkah-langkah di atas, Anda tidak perlu terlalu bingung. Dan saya yakin Anda akan bisa menyelesaikan kasus ini dengan baik. Salam…(*)