Pengembangan Karir – Reputasi Buruk dari Mantan Atasan

Share Social

pengembangan karir reputasi burukSaya pernah mendengar tentang cek referensi untuk mengetahui reputasi kerja seseorang di perusahaan terdahulu. Hal ini biasanya dilakukan oleh pihak perusahaan sebelum si calon karyawan tersebut diterima bekerja di perusahaan barunya. Ada kejadian menarik yang baru saja terjadi terhadap bawahan (baru) saya. Dia nampaknya bermasalah dengan atasannya setelah resign dan diterima perusahaan sekarang ini. Namun si mantan atasan terus meneror dengan menelepon HRD kami. Mantan atasan itu mengatakan segala macam hal yang intinya mengatakan bawahan saya itu bermasalah

Saya kebetulan beberapa kali pernah menerima telepon dari perusahaan lamanya yang isinya mengata-ngatai. Waktu saya tanyakan masalah sebenarnya, intinya ia hanya meminta saya untuk mempertimbangkan kembali menerima dia sebagai karyawan di bagian saya. Setahu saya, bawahan ini orangnya baik dan tidak macem-macem. Kalau dikatakan yang macam-macam, saya sendiri tidak percaya. Sampai saya menanyakan sendiri kepada dia, apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya mengatakan atasannya sepertinya ada dendam atau masalah pribadi. Tapi dia tutup mulut dan mengatakan silakan saja buktikan siapa yang benar dan siapa yang tidak benar.

Terus terang saya merasa cocok dengan pekerjaan bawahan baru ini, sayang juga kalau saya harus melepaskan dia karena percaya dengan telepon yang bernada miring tersebut. Bu, bagaimana saya harus bertindak? Apakah HRD memang bisa mengeluarkan karyawan baru tersebut meskipun saya ngotot mempertahankannya? Mohon sharing. Syamsul, Gresik

Jawaban:

Dalam rangkaian proses seleksi penerimaan calon karyawan, salah satu tahapan yang dilakukan adalah cek referensi. Banyak perusahaan yang memilih untuk tidak melakukannya karena beberapa pertimbangan. Cek referensi hanya jadi pilihan ketika pihak perusahaan ragu dengan kondite seseorang. Jadi jika dari rangkaian proses seleksi sebelumnya diyakini bagus dan konsisten dengan apa yang ditunjukkan, maka tidak perlu lagi ada cek referensi. Jadi cek referensi hanya jadi pilihan terakhir.

Alasan lain misalnya, percaya bahwa masing-masing orang itu selalu punya kesempatan kedua atau ketiga untuk berubah (walaupun katanya manusia sulit berubah). Alasan ketiga, lingkup bisnis di sekitar kita sebenarnya terbatas dan kecil sekali. Terkadang dari pembicaraan yang sifatnya ringan saja bisa muncul cross reference.

Namun dengan beberapa pertimbangan pula, beberapa perusahaan memilih melakukan cek referensi. Meski demikian, tidak mudah untuk melakukannya secara objektif. Demikian pula sebaliknya ketika kita menerima informasi yang bernada negatif tentang calon yang akan direkrut, meskipun kita sudah berusaha menerapkan prinsip konfirmasi referensi agar tetap etis dan tidak merugikan bagi si pemberi informasi maupun penerima informasi.

Kembali pada masalah Anda, di mana tanpa diminta mantan atasan membeber-beberkan hal-hal negatif tentang bawahannya. Bahkan ketika didesak, ia tidak juga mau menceritakan detil “keburukan” bawahan Anda. Saya percaya Anda seorang yang dapat bersikap objektif. Karena itu dengan informasi yang tidak jelas dan tidak lengkap, Anda tidak mungkin mengambil kesimpulan sepihak. Pastikan dulu informasi Anda dengan mencoba menggali dari mantan atasannya. Apakah harus bertemu muka atau jika Anda ragu, lakukan konfirmasi secara tertulis kepada pihak perusahaan lama.

Beberapa hal yang lazim ditanyakan adalah: a. Posisi terakhir pada perusahaan lama, b. Alasan yang bersangkutan keluar/resign (tidak perlu detail, hanya alasan utama), memang hal ini banyak yang klise seperti, ingin cari pengalaman atau mencari prospek yang lebih baik dll, Saya yakin Anda pasti punya insting khusus mengenai hal ini berdasarkan pengalaman . c. Performa yang bersangkutan dalam posisi terakhir tersebut, cukup tanyakan dalam kondisi: Outstanding, Bagus atau Biasa, karena tujuannya tidak ingin mencari-cari kesalahan ataupun masalah yang bersangkutan. Jika ingin menanyakan sikap negatif, mungkin saja, biasanya lebih dikaitkan dengan catatan Surat Peringatan.

Untuk menjawab hal-hal di atas HRD biasanya akan memberikan data hasil Penilaian Kinerja, karena lebih bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa orang ada juga yang menganjurkan untuk menanyakan kepada atasan langsungnya karena ia yang berinteraksi langsung dengan pekerjaan karyawan tersebut. Tapi jika menurut Anda mantan atasannya tidak bisa bersikap objektif, maka informasi dari HRD akan menjadi pembanding informasi yang Anda butuhkan.

Setelah mendapatkan informasi-informasi di atas dan dengan keyakinan penilaian Anda tentang bawahan tersebut, saya harap Anda dapat menyimpulkan dan mengambil keputusan yang pas. Karena itu meminta konfirmasi referensi biasanya lebih mudah, yang sulit adalah menggunakan informasi yang sifatnya agak miring tentang karyawan tersebut dengan bijaksana. Anda hanya perlu ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan juga punya kesempatan untuk berubah. Karena itu beberapa sifat negatif hendaknya cukup menjadi catatan yang Anda simpan untuk tujuan pembinaan dan pengembangan karyawan tersebut selama ia akan bekerjasama dengan Anda, dan agar tidak terulang kembali. Kecuali jika sangat fatal dan mempunyai sifat/kebiasaan buruk yang bertentangan dengan nilai-nilai dan budaya kerja di perusahaan, Anda perlu mempertimbangkannya kembali.

Jika Anda mantap dengan keyakinan kemampuan bawahan baru itu dan karena Anda yang akan berhubungan langsung dalam pekerjaan, saya rasa HRD hanya dapat memberikan masukan dan tidak dapat memaksakan untuk “melepas” karyawan tersebut. Semoga penjelasan di atas dapat menjawab keraguan Anda. Selamat bekerja dan sukses. (*)