Pengembangan Karir – Susahnya Punya Atasan Nyantai

Pengembangan Karir – Susahnya Punya Atasan Nyantai

pengembangan karir Susahnya Punya Atasan Nyantai

Pengasuh Konsultasi Karir di tempat. Saya karyawan di sebuah perusahaan dan baru dua tahun saya bekerja disana. Saya bingung dengan sikap atasan saya. Di satu sisi ia sangat dekat dengan bawahannya, dan karena itu suasana kerja jadi tanpa ada gap. Tapi si sisi yang lain, ia juga dibenci oleh beberapa karyawan yang lain. Dalam kondisi seperti di atas, rasanya tidak mungkin – dibenci sekaligus dicinta. Tapi kenyataan demikian adanya. Dari pengamatan saya, ini berasal dari sikapnya yang kurang perhatian dengan pekerjaan kantor. Ia cenderung mengabaikan persoalan dan jika muncul masalah seringkali berusaha menghindar. Maaf jika ini berlebihan, ia bahkan tidak pernah mengontrol pekerjaan bawahannya, termasuk pekerjaan saya. Apalagi menegur jika pekerjaan tidak selesai. Tentu saja sikap demikian ini  membuat beberapa teman yang lain senang. Tapi tidak bagi sebagian teman yang lain, karena kerja jadi mengalir begitu saja.

Saya pribadi termasuk orang yang tidak suka dengan situasi demikian. Karena seorang yang bekerja sungguh-sungguh dengan yang hanya datang kantor tanpa tujuan dan menunggu waktu jam kerja usai hampir tidak ada bedanya.  Bukan bermaksud mengunggulkan diri dan menunjukkan kerja paling keras, tapi kerja jadi tidak ada gregetnya. Memang departemen saya adalah departemen supporting, dimana tidak langsung berhubungan dengan pelanggan dan target kerja lebih banyak bersifat kualitatif serta tidak punya deadline ketat. Sementara itu antara atasan saya dengan atasan di atas lagi ada hubungan baik, karena itu meskipun kondisinya demikian namun posisinya atasan saya tetap aman.

Sebagai informasi, kami hanya sibuk pada bulan-bulan tertentu, jadi di luar bulan itu relatif banyak “acara santai”. Bu, bagaimana saya harus bersikap dalam situasi demikian. Menggurui atasan jelas tidak mungkin, tapi bertahan dan diam saja malah membuat saya merana. Mohon saran dan masukannya, Salam manis dan semoga sukses selalu menyertai Ibu.                                                                                                      Nur Rifki., Pasuruan

 Jawaban:

Saya dapat merasakan bagaimana sumpeknya Anda berada dalam situasi yang tidak diharapkan tetapi harus menghadapinya setiap hari. Namun di sisi lain tidak dapat berbuat apa-apa meskipun makan hati melihat situasi yang tidak kondusif.

Seorang pemimpin (terlepas apakah ia dicintai atau tidak) biasanya karena ia mempunyai kualitas pribadi yang kuat dan karismatik. Selain mempunyai visi yang jelas dan dapat mengarahkan anggota timnya menuju sasaran bersama, ia juga seorang yang gigih memperjuangkan kemajuan timnya dan juga berani mengambil resiko.. Karena kualitas pribadi yang dimiliki itu sehingga biasanya seorang pemimpin dipilih oleh anggotanya. Dalam beberapa organisasi / perusahaan, seorang pimpinan tidak selalu ditunjuk karena kualitas pribadi yang dimiliki. Pertimbangan senioritas dan penunjukkan bisa juga mengukuhkan posisi seorang menjadi pimpinan.

Dalam satu kelompok, pemimpin adalah orang yang paling sering diperhatikan dan didengarkan suaranya. Karena itu, semangat dan hal-hal yang dilakukan oleh seorang pemimpin  (meskipun ia tidak selalu hadir secara fisik), biasanya akan menjiwai dan menjadi semangat bagi anggota kelompoknya.

            Kembali pada kasus yang Anda alami, dimana pimpinan Anda justru memberikan contoh-contoh tindakan yang dapat menghambat kemajuan tim yang dipimpinnya. Ada dua kemungkinan. Pertama, ia menjadi pimpinan karena senioritas dan bukan karena kualitas pribadi yang dimiliki. Kondisi demikian membuat ia tidak menyadari tanggung jawab moralnya sebagai motor dan pendorong bagi mesin kelompoknya. Kedua, ketidakjelasan fungsi bisa juga membuatnya bingung dalam bertindak, karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam jabatan tersebut sehingga memilih mendiamkannya saja. Dalam situasi yang demikian, seorang yang tidak tegas akhirnya membiarkan begitu saja tim mengalir. Orang lain juga menilai ia tidak pernah mengontrol dan menegur karyawan yang tidak menjalankan fungsinya.

Apa yang dia lakukan nampaknya didukung pula dengan sistem dari manajemen yang kurang berorientasi pada hasil. Tidak ada target yang jelas, serta sanksi bagi anggota yang tidak memenuhi kewajiban dan bahkan melanggarnya. Karenanya, demikian mudahnya ia menghindar ketika ditanya tenggat waktu penyerahan laporan dan teladan perilaku bagi anggotanya. Karena selau berhasil “ngeles” , ia bahkan tidak menyadari jika hal demikian ini dilakukan terus-menerus, maka tidak hanya timnya yang akan hancur tetapi juga karir pribadinya.

            Dalam kondisi seperti sekarang, memintanya berubah memang susah. Namun Anda dapat memulai dari diri sendiri agar tidak terseret kedalam ritme kerja yang ada sekarang. Periksa kembali tanggung jawab apa saja yang melekat pada jabatan Anda. Dari sana kemudian  perinci ke dalam target kerja. Jika memang tidak jelas, Anda dapat mulai menentukan kualifikasi hasil apa yang diharapkan dari tugas yang demikian agar dapat memuaskan orang lain/departmen yang mungkin berhubungan dengan pekerjaan Anda. Selanjutnya tetapkan juga perkiraan waktu  penyelesaian yang diharapkan.

Dimulai dengan “menggandeng” beberapa teman yang masih punya idealisme seperti Anda, biasakan untuk bekerja dengan format demikian. Jika perlu ajukan kepada atasan usulan Anda sehingga ia juga merasa terlibat. Dalam situasi yang demikian bisa jadi di tahap awal ia akan menolak dan malah menuduh Anda terlalu berlebihan. Pendekatan dan cara yang tepat akan membantu mendapatkan pengakuan dari atasan.

Jika masih mentok juga, mungkin Anda yang harus berpikir ulang apakah memang Anda masih bisa beradaptasi dan mempunyai kesabaran menghadapi situasi kerja yang demikian. Jika tidak, maka segera pertimbangkan untuk pindah ke bagian lain atau mungkin mencari pekerjaan lain jika memang gaya kerja demikian telah menjadi budaya yang sulit untuk dirubah menjadi lebih baik. Saya berharap semoga Anda dapat menjadi terang bagi lingkungan dimana pun Anda bekerja.(*)

This entry was posted in Pengembangan Karir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.