Pengembangan Karir -“Task Oriented “ Yang Keblabasan

Share Social

Pengembangan Karir –“Task Oriented “ Yang Keblabasan

pengembangan karir task oriented kebablasan

Pengasuh Konsultasi Karir di tempat, Saya karyawan yang bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan. Saat ini saya sedang terlibat dalam suatu proyek dengan rekan kerja dari divisi yang lain. Maklumlah bu,  karena keterbatasan karyawan di Perusahaan, kami sering dilibatkan dalam suatu proyek bersama sehingga mau tidak mau kami selalu berinteraksi dengan orang yang sama. Hanya saja yang jadi permasalahan dalam team kami (6 orang) ada salah satu rekan yang menurut kami sangat dominan dan ingin menang sendiri. Ia tidak segan-segan bersikap frontal dalam berargumentasi jika segala sesuatunya tidak sesuai dengan keinginannya.

Payahnya saat ini ia menjadi team leader dalam proyek yang kami kerjakan saat ini. Saya bingung bu, di satu sisi ia memang mumpuni secara teknis operasional di lapangan namun disisi lain ia terlalu menekan kami agar hasil kerjanya sesuai pengharapannya. Sebagai informasi ia tipikal pekerja keras. Masalahnya ia seringkali melupakan hal-hal sepele, misalnya untuk makan dan hal-hal pribadi lain.

Jika sedang menggarap sebuah proyek, ia juga tidak suka melihat orang lain yang dapat menikmati waktu luang untuk hal-hal pribadi diluar jam kerja yang sudah ditetapkan perusahaan. Bahkan jika pekerjaan belum selesai, kegiatan kita pada hari libur pun selalu dipantau. Saya pribadi termasuk orang yang tidak suka dengan situasi demikian. Karena pada dasarnya kami cukup tahu tanggung jawab masing-masing di kantor. Masa kerja kami yang relative panjang setelah menempa kami dalam mengatasi deadline dan masalah pekerjaan lainnya.

Bu, bagaimana saya harus bersikap dalam situasi demikian. Hal ini juga seringkali sudah kami rundingkan dengan teman-teman kami yang lain untuk mencari solusinya. Hanya saja kami takut jika nanti memberi masukan padanya dapat membuatnya tersinggung. Tapi saya juga sulit untuk bertahan dan diam karena hal itu akan membuat saya semakin makan hati dan merana. Mohon saran dan masukannya, Salam manis dan semoga jawaban ibu bisa menentramkan hati kami.                                                    Ratu, Surabaya

 Jawaban:

Saya dapat merasakan bagaimana juteknya Anda berada dalam situasi yang tidak menyenangkan tetapi harus tetap menghadapinya. Dalam sebuah interaksi di tempat kerja, jika ada beberapa orang bekerja dalam satu tim, akan selalu muncul peluang terjadinya benturan-benturan (kepentingan).  Benturan kepentingan itu harus dapat diselesaikan. Jika tidak dapat terpecahkan akan menjadi konflik yang besar.

Mengapa potensi konflik selalu muncul? Jawabnya sederhana, karena setiap manusia adalah pribadi-pribadi yang unik. Misalnya jika dalam satu tim ada 6 orang, maka akan ada 6 karakter yang berbeda. Belum lagi jika ada dua atau tiga orang yang punya karakter setipe, mungkin juga akan muncul kepentingan dari kelompok yang lain. Jadi jika anggota kelompok lebih banyak, pasti friksi-friksi akan lebih sering muncul.

Setahu saya dalam setiap pekerjaan (proyek) besar yang melibatkan banyak kepentingan, selalu disusun suatu perencanaan / penjadwalan yang realistis dan sesuai dengan kondisi. Tujuannya, agar masing-masing anggota tim dapat bekerja secara fokus sesuai tanggung jawab pekerjaan., dengan spesifikasi yang dimiliki, dan memenuhi deadline yang telah dijadwalkan.  Masing-masing anggota harus memahami tujuan akhir dari pekerjaan ini. Kesamaan sudut pandang inilah yang akan menjadi penguat jika muncul hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya.

Satu tim yang solid biasanya akan terbentuk jika muncul rasa solidaritas dari masing-masing anggotanya. Kesediaan memahami karakter masing-masing anggota yang berbeda dan keinginan membantu kesulitan yang muncul akan dapat meminimalkan konflik yang (berpotensi ) muncul. Dengan tetap berpedoman terhadap hasil akhir, suasana kerja dalam tim pun akan menjadi menyenangkan. Kepercayaan terhadap masing-masing anggota tim juga harus ada. Jika tidak, maka akan muncul kejadian seperti di atas, dimana bahkan sampai kegiatan pribadi dipantau.

Kembali pada masalah yang sedang Anda hadapi, dimana team leader sangat dominan dan benar-benar bertanggung jawab kepada hasil kerja,  coba evaluasi apakah sebelum pekerjaan berjalan sudah dilakukan pembagian tanggung jawab serta tenggat waktu yang diharapkan dari masing-masing sub pekerjaan. Kepercayaan terhadap anggota tim akan membantu memastikan bahwa masing-masing penanggung jawab akan concern dengan pekerjaannya. Dengan demikian meskipun masing-masing orang bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya, tidak akan muncul prasangka apakah si A bekerja atau tidak di hari libur, apakah si B sedang santai ataukah benar-benar sedang mengerjakan pekerjaannya.

Orang akan  sibuk mengawasi pekerjaan orang lain, sehingga lebih mudah memunculkan kecurigaan dan rasa tidak dipercaya. Yang demikian, jika sudah muncul dalam tim akan menyulitkan tim mencapai hasil akhir. Kalau pun tercapai sesuai dengan target waktu dan hasil yang diuharapkan, tapi moral masing-masing anggota sudah  hancur. Dan jika ada penugasan sejenis yang akan datang, maka saya jamin orang akan sebisa mungkin menghindar dengan berbagai alasan menolak bergabung dalam tim yang bikin stress.

Sebagai anggota tim, Anda maupun teman lain punya hak untuk menyampaikan keberatan jika ada hal-hal yang sekiranya menghambat suasana kerja. Komunikasikan secara rutin perkembangan dari pekerjaan jika leader Anda takut pekerjaan yang  Anda kerjakan  tidak selesai sesuai jadwal.  Mungkin saja ia pernah punya  pengalaman buruk kurang dengan anggota tim lain atau Anda karena teledor mematuhi jadwal.  Dimana sebagai leader dia harus  bertanggung jawab. Jika Anda berpikir ini adalah untuk kebaikan bersama dan bukan dengan tujuan memojokkan atau menghakimi seseorang, maka meskipun berat dan mungkin ada yang tidak senang, maka lakukanlah. Pemilihan waktu yang tepat, misalnya ketika evaluasi atas pekerjaan yang telah selesai dan cara penyampaian yang pas dengan tanpa tendensi pribadi akan membantu membukakan pikiran seseorang dari sudut pandang lain. Jika mungkin ada beberapa orang yang mengalami kejadian yang sama, penyampaian empat mata akan lebih efektif karena ia tidak akan merasa dihakimi beramai-ramai. Yang penting dari tujuan penyampaian ini adalah adanya perubahan perilaku bukan melampiaskan sentimen atau dendam pribadi.  Semoga saran saya dapat bermanfaat dan membantu masalah yang Anda hadapi. Salam. (*)