Pengembangan Karir – Teman Saya EQ-nya Jongkok

Pengembangan Karir – Teman Saya EQ-nya Jongkok

Spread the love

pengembangan karir eq jongkok

Bu, saya orang awam yang kurang paham jargon – jargon dalam psikologi. Tetapi dalam pergaulan dengan teman-teman dan diskusi dengan mereka, seringkali saya menemui istilah-istilah yang terkadang saya tidak paham benar maksudnya. Saya punya teman wanita satu bagian, orang-orang sering mengatakan dia EQ-nya jongkok. Terus-terang saja, saya tidak paham betul maksudnya. Orang ber-EQ jongkok itu seperti apa? Apakah orang yang keras terhadap pendirian, saklek dan gampang marah itu disebut demikian?  Teman saya itu sifatnya demikian.

Saya sudah sering mendengar istilah EQ. Dari hasil tanya, dengar dan baca itu,  kurang lebih definisinya adalah kecerdasan emosi. Terkait dengan masalah kecerdasan, otak, saya sering mendengar istilah IQ jongkok. Bagi saya lebih jelas pengertiannya, karena saya bisa melihat contohnya, kurang lebih orang yang kurang pandai / cerdas. Kalau demikian, apakah sama orang temperamental dengan orang EQ jongkok?  Mohon Ibu bersedia menjelaskan supaya kebingungan saya terjawab. Terimakasih. Titi, Mojokerto

Jawaban:

Sdri. Titi, istilah Emotional Intelligence (EI) pertama kali dicetuskan oleh Daniel Goleman. Di Indonesia orang kemudian menerjemahkan menjadi kecerdasan emosi. Dimana artinya adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami perasaan / emosi dan kemudian menggunakannya secara tepat kepada dirinya maupun orang lain. Dalam perkembangannya, kemudian orang menyebut EQ. Karena orang memperbandingkan kecerdasan emosi ini dengan kecerdasan otak. Dimana kemampuan seseorang untuk berpikir, belajar, memahami , mengingat dan mempertimbangkan sesuatu diukur dengan IQ. Kemudian orang juga berusaha menetapkan ukuran kemampuan seseorang dalam mengkoordinasikan pikiran, perasaan dan tindakan dengan EQ.

Adapun aspek kecerdasan emosi terdiri dari : kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan kemampuan interpersonal. Penjelasannya demikian: Pertama, orang harus mampu terlebih dahulu untuk menerima dirinya baik kekuatan maupun kelemahannya. Karena dengan demikian, orang akan lebih enjoy bersikap. Tidak perlu merasa minder dengan kelemahan yang dimiliki, sementara dengan kekuatan yang ada ia tahu harus berbuat apa. Ini yang dinamakan pengendalian diri, dimana seseorang harus mampu mengelola dorongan-dorongan perasaan negatif yang muncul dan mengarahkannya kepada hal yang positif.

 Yang demikian termasuk mengarahkan dirinya untuk mencapai tujuan jangka panjang dan menunda kepuasan jangka pendek serta bertahan menghadapi frustrasi. Setelah ia mampu mengelola dorongan ke dalam dirinya, maka ia juga harus bisa mengarahkannya kepada orang di luar dirinya. Kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain dan memberikan respon atau tanggapan yang tepat sangat dibutuhkan dalam suatu hubungan sosial. Karena dengan demikian, maka ia akan bisa menghargai, menghormati orang lain dan memperlakukan orang lain seperti seharusnya..Dan yang sebaliknya ia pasti juga akan dapat diterima, dihormati dan dihargai oleh lingkungannya. Karena itu, orang-orang yang mempunyai EQ baik, biasanya akan lebih disukai oleh teman-temannya, lebih sukses dalam pekerjaan, dan seringkali menjadi bintang dalam lingkungannya.

Terkait dengan kondisi teman Anda yang diolok-olok ber EQ jongkok, berikut adalah penjelasannya. Kata jongkok berkonotasi dengan tidak ketidakmampuan alias kurang / rendah. Jika IQ jongkok, berarti seseorang mempunyai potensi intelektual yang kurang sehingga tidak mampu menyelesaikan masalah dan kurang mampu bereaksi cepat. Sedangkan EQ jongkok berarti kurang lebih: orang tersebut kurang mampu mengelola dan mengarahkan pikiran, perasaan dan tindakannya secara tepat. Dalam bentuk yang ekstrim bisa jadi orang tersebut sangat pasif, atau justru sering melakukan tindakan yang agresif, arogan, tidak terkontrol dan bisa juga mengarah ke destruktif.

Jika yang demikian terjadi, maka lingkungan akan seringkali merasa tidak nyaman orang tersebut berada di dalamnya. Karena tindakan yang dilakukan tidak didasari dengan kesadaran terhadap dirinya sehingga biasanya sulit juga mengendalikan emosi/perasaan untuk memberi kesempatan orang lain atau menunda tujuan sesaat. Jika yang demikian terjadi, biasanya juga sulit untuk memahami kondisi orang lain dan menerima perbedaan sebagai suatu hal yang wajar

Satu hal yang perlu saya garisbawahi, emosi tidak selalu identik dengan marah atau temperamental. Emosi sebenarnya adalah ungkapan perasaan manusia. Jadi bisa saja ekspresi perasaan positif maupun negatif. Emosi positif misalnya bahagia, puas, senang, sayang/cinta, dll. Adapun emosi negatif seperti sedih, marah, iri, cemburu, dengki, dll. Dan yang menggembirakan adalah EQ masih bisa diasah atau ditingkatkan, berbeda dengan IQ yang sifatnya relatif menetap. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dipengaruhi oleh 20% kecerdasan otak yang dimiliki (IQ), sedangkan sisanya banyak dipengaruhi oleh EQ-nya.

Demikian Titi, semoga penjelasan diatas menjawab kebingungann Anda. Dan semoga juga Anda termasuk orang yang mau belajar terus untuk mengembangkan EQ yang Anda miliki. Salam sukses…